Selasa , 05 December 2017, 04:39 WIB

Mengapa Dinamakan Ka’bah?

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
 Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi.
Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Pendapat yang berkembang di kalangan para ulama dan pakar sejarah mengatakan bahwa dinamakan Ka’bah karena berbentuk kubus. Mereka juga mengatakan bahwa bentuk kubus itu bukanlah tanpa alasan, melainkan didesain sedemikian rupa mengingat letak geografisnya di bumi sejejar dengan letak Baitulmakmur di langit.

Baitulmakmur adalah tempat yang istimewa, sehingga Allah SWT bersumpah dalam Alquran: “Demi Bukit Thur, dan kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitulmakmur.” (QS. ath-Thur:1-4)

Dikutip dari Ensiklopedia Alquran bahwa Ibnu Abbas dan mayoritas musafir memandang bahwa Baitulmakmur adalah sebuah bangunan di langit keempat yang sejajar dengan Ka’bah. Allah SWT menamakannya Baitulmakmur karena para malaikat memakmurkan tempat itu dengan melakukan ibadah dan bertasbih kepada-Nya, secara terus-menerus.

Bahkan, menurut Ali bin Abi Thalib ra, sebanyak 70 ribu malaikat memasukinya setiap hari untuk beribadah, kemudian keluar dan tidak pernah kembali lagi ke sana. Karena, hari selanjutnya merupakan giliran 70 ribu malaikat lainnya untuk beribadah di dalamnya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Baitulmakmur sepadan dengan lokasi Baitulharam di Makah. Seandainya ia terjatuh dari langit keempat, pasti akan mendarat tepat di lokasi Baitulharam.”

Sebagaimana Ka’bah yang berbentuk kubus, demikian juga dengan Baitulmakmur. Letak Baitulmakmur berdampingan dengan ‘Arsy Allah SWT. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa ‘Arsy pun berbentuk kubus. Karena, prinsip dan hukum yang dibangun Allah SWT di atas ‘Arsy-Nya tertanam pada empat hal sekaligus merupakan pilar dan dasar bagi Islam.

Empat pilar dimaksud adalah: pertama, subhanallah, yang berarti penyucian Sang Pencipta serta pengagungan kekuasaan dan takdir-Nya. Kedua, alhamdulillah, disebabkan mukmin yanng sejati tidak pernah melupakan bersyukur kepada-Nya. Ketiga, la ilaha illallah, yaitu keesan Allah dan penafian sekutu-Nya. Dan terakhir, Allahuakbar

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda tentang berkah yang dilimpahkan Allah SWT kepada Baitulharam, “Dalam setiap siang dan malam hari, Allah SWT menurunkan 120 rahmat ke Baitullah ini. Enam puluh untuk orang yang tawaf, empat puluh untuk orang yang melakukan salat, dan dua puluh untuk orang yang menyaksikan.”

Salah satu berkah teragung Baitulharam adalah bahwa barangsiapa yang menunaikan ibadah haji ke sana, Allah SWT akan mengampuni seluruh dosa yang dilakukannya sebelum itu. Asalkan, orang yang dimaksud memiliki niat tulus, menunaikannya dengan mengharap rida Allah SWT.