Selasa , 18 Juli 2017, 06:36 WIB

APPBI Pertimbangkan Kestabilan Harga Komoditas untuk Bangun Mal di Kalimantan

Red: Nidia Zuraya
Republika/Wihdan Hidayat
 Pusat Perbelanjaan di Jakarta
Pusat Perbelanjaan di Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai pembangunan mal di beberapa kota Pulau Kalimantan perlu mempertimbangkan kestabilan harga komoditas, seperti batubara dan kelapa sawit yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

"Di luar Jawa, seperti di Kalimantan, kalau mau bangun mal di sana pendapatan penduduknya lagi turun. Batubara dan sawit masih belum normal, seperti Balikpapan masih berat, Samarinda masih lumayan, tapi harus ada pemulihan ekonomi," kata Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (17/7).

Stefanus mengatakan para pengelola pusat belanja lebih memilih untuk melanjutkan pembangunan mal yang sudah ada daripada membangun dari awal. Di tengah menjamurnya pasar online, investor juga mempertimbangkan keuntungan membangun mal karena jangka waktu agar modal investasi dapat kembali pada bisnis ini terbilang lama, bisa mencapai 10 sampai 12 tahun.

"Kalau bangun di daerah, 'return on investment' jauh banget. Sembilan tahun itu sudah bagus luar biasa, rata-rata 10 sampai 12 tahun. Agak susah apalagi harga tanah belum dihitung," kata dia.

Menurut dia, pertumbuhan mal pada tahun ini cenderung melambat setidaknya kurang dari 10 mal. Sejumlah moa yang akan diselesaikan dan diresmikan pada tahun ini berada di Pulau Jawa, antara lain Tunjungan Plaza pada 6 November 2017 dan Pakuwon Mall.

"Kita berharapnya ada kalau 10 mal, tetapi sekarang baru ada 312 mal. Sekarang yang membangun untuk menengah ke bawah. Dari 312 anggota APPBI, 293 menengah bawah, yang belasan kelasnya menengah atas, itu hanya di Jakarta. Di daerah hanya ada satu atau dua mal," kata Stefanus.

Ia menjelaskan pertumbuhan mal di Jakarta melambat karena perizinan yang sulit. Selain itu, investor lebih tertarik jika mal dipadukan dengan apartemen dan perkantoran karena pengelola dapat diuntungkan melalui biaya lahan parkir.

"Mal itu jadi daya tarik orang mau investasi di 'office tower; dan apartemen. Kalau di apartemen, tamu datang jadi gampang parkir. Kalau punya mobil dua, satunya bisa diparkir di mal. Pengelola jadi bagus bisa masuk ke sana. Ini menguntungkan," kata dia.

b/a011





Sumber : Antara