Tradisi Berbuka Puasa di Tanah Suci
Sabtu , 24 December 2016, 22:00 WIB

AP/Hassan Ammar
Haji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Buka puasa adalah saat yang ditunggu bagi orang yang berpuasa karena termasuk dua kegembiraan yang dijanjikan Tuhan. Di Masjidil Haram, tradisi buka puasa puasa bersama disebut Al-Maidah Aramdhaniyah atau Ifthar Jama’i.

Di Mesir, mereka menyebutnya dengan istilah Maidaturrahman. Substansinya sama, yaitu menyediakan makanan gratis bagi para pengunjung yang akan berbuka puasa, berbagi dengan yang lain, bukan sekadar seni, melainkan sebuah keyakinan untuk mendapatkan pahala, sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa member makanan atau minuman untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut.”

Lebih dari itu, mereka yang member makanan atau minuman bagi yang berpuasa akan mendapat doa dari Malaikat. “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang puasa. Orang-orang baik memakan makanan kalian, dan para malaikan mendapatkan kalian.” Dilansir dari buku Ensiklopedia Peradaban Islam Makkah, di dalam dan luar Masjidil Haram akan terlihat pemandangan yang menakjubkan, yaitu ketika semua orang dengan berbagai perbadaan berkumpul untuk berbuka.

Sepanjang mata memandang, tepi jalan menuju Masjidil Haram relah terparkir beberapa truk pengangkut makanan dan minuman, seluruhnya diperuntukan bagi yang hendak berbuka puasa. Kita juga akan menyaksikan pada saat berbuka, seluruh jalanan sangat padat dengan kendaraan, khususnya di kawasan pusat jajanan makanan khas Makkah. Di antaranya full atau bubur kacang, tamis atau roti, serta acar bawang dan tomat. Terdapat juga makanan manis berupa kue, seperti Kunafah dan Gharbaliyah. 

Redaktur : Agung Sasongko