'Het Mekkansche Feest': Haji Dalam Pikiran Snouck Hurgronje
Sabtu , 07 January 2017, 04:21 WIB

Republika/ Amin Madani
Jamaah haji berjalan kaki menuju Makkah, usai melontar jumrah di Mina, Senin (12/9). (Republika/ Amin Madani)

''Pesta Makkah (Het Mekkansche Feest)!" Begitu judul buku yang merupakan karya arsitek politik Islam Hindia Belanda, Christiaan Snouck Hugronje (1857-1936).Buku terbitan tahun 1880 ini tebalnya mencapai 199 halaman. Kalau ingin membelinya, maka buku ini  masih dijual di toko buku dunia maya Amazon.com dengan harga plus ongkos kirim sebesar 35 dolar AS.
 
Buku ini sangat menarik. Meski agak kesulitan karena dibaca dengan cara menerjemahkan dengan 'mesin terjemahan' esensi buku ini bisa ditangkap. Di sana sini masih menggunakan bahasa Belanda yang agak kuno. Tapi lumayanlah untuk menerangkan seperti apa suasana perhelatan haji di Makkah ketika Hugronje tinggal di sana selama tujuh bulan pada tahun 1885. Buku ini disusun dari bahan disertasi Hugronje ketika hendak meraih gelar doktor bidang sastra Semit di Universitas Leiden Belanda.
 
Hugronje mengawali tulisannya dengan mengisahkan sebuah peristiwa yang terjadi lebh dari 1.200 tahun silam, yakni saat Rasullah Muhammad SAW sampai di Madinah ketika hijrah dari Makkah pada sebuah sore di bulan Februari di tahun 632 M. Saat itu Rasul di sambut dengan meriah oleh penduduk Makkah. Suasana keramahan ini sangat kontras bedanya dengan perilaku penduduk Makkah yang begitu memusuhinya.
 
Setelah itu kemudian Hugronje bercerita tentang berbagai doktrin agama Islam. Salah satu yang dia bahas secara khusus adalah soal haji. Dia bercerita dengan detil mengenai dasar kaidah ibadah ini di dalam ajaran Islam. Dia mengutip berbagai sumber, baik itu ayat Alquran, hadits, pendapat ulama serta fuqaha, hingga catatan perjalanan berbagai orang yang berhaji ke Makkah (rihala), seperti catatan Ibnu Batuttah. Salah satu hal yang menarik dalam hal ini misalnya adalah bagaimana Hugronje berbicara secara detil mengenai sisi kemampuan (istito'ah) dari seseorang yang hendak berangkat haji ke Makkah.
 
Selebihnya, Hugronje menerangkan kisah Rasullah yang hendak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Lebih dari itu sebenarnya kalau anda pembaca tarikh nabi yang 'serius' tak ada kisah yang menarik. Cerita tentang kedatangan Rasullah pada waktu 'pembebasan Makkah' sudah lazim diketahui. Begitu juga cerita penghancuran banyak berhala yang ada di seputaran Ka'bah.
 
Namun ketika kembali membahasa soal haji ada hal yang menarik dikemukakan oleh Hugronje. Secara panjang lebar dia membahas dan mencoba membuat analisa bahwa haji adalah ritual peninggalan kaum bangsa Semit kuno. Nabi Muhammad kembali menghidupkan ritual itu dengan versinya sendiri.
 
Menurut Hugronje, pada zaman sebelum Islam datang (pra Islam), 'Pesta Makkah' adalah merupakan kebiasaan Arab Kuno, yakni pesta peyembahan berhala. Pada zaman kuno itu orang dari seluruh penjuru Arab datang ke Makkah untuk berpesta, makan dan minum, bernyanyi-nyanyi, serta mendengarkan syair. Mereka juga melakukan tawaf keliling Ka'bah dengan telanjang dan melakukan hubungan badan di depan Ka'bah.

''Setelah Nabi Muhammad menaklukan Makkah maka segala kebiasaan atau tradisi kaum Arab Kuno diganti. Misalnya tak ada lagi berhala dan tawaf telanjang di sektar Ka'bah. Mereka diharuskan memakai ihram.''

Redaktur : Muhammad Subarkah