Minat Berumrah Harus Seimbang dengan Ibadah Lain
Rabu , 11 Januari 2017, 08:26 WIB

Republika/Wihdan Hidayat
Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah).

JAKARTA -- Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), menyerukan agar besarnya minat pergi berumrah harus diseimbangkan dengan tingginya keinginan untuk mengerjakan ibadah yang lain, misalnya membayar zakat, infak, wakaf, dan sedekah. Apalagi, Rasulullah Muhammad SAW pun telah mencontohkan tidak setiap tahun beliau melakukan umrah.

"Kami paham bila minat orang untuk berumrah sangat tinggi. Bahkan banyak diantaranya berangkat ke tanah suci tiap tahun. Menurut saya semua itu bisa saja dilakukan asal ibadah yang lain juga dilakukannya. Misalnya, tiap tahun mengerjakan umrah dengan menghabiaskan dana hingga 2.000 dolar AS, maka sebaiknya zakat dan infaknya juga sama, dalam setahun juga mencapai 2.000 dolar AS,'' kata Gus Solah, dalam perbincangan dengan ihram.co.id, Selasa (10/11).

Gus Solah menegaskan, terus meningkatnya minat jamaah umrah memang bisa dimengerti. Di satu sisi hal ini juga disebabkan panjangnya antrean untuk berhaji. Hal lainnya, membeludaknya umrah juga karena kondisi ekonomi kaum Muslim Indonesia semakin membaik.

''Jadi bayangkan betapa besar potensi ekonomi umrah. Dalam setahun kabarnya sudah mencapai jamaah 1,5 juta orang. Bila satu orang menghabiskan biaya hingga 2.000 dolar AS, maka setahun akan ada perputaran dana hingga mencapai 30 juta dolar AS. Jadi nilai potensinya ekonomi luar biasa besar, mencapai triliunan rupiah,'' katanya.

Menurut dia, besarnya perputaran dana di dalam bisanis umrah yang mencapai puluhan triliunan itu, jumlahnya menjadi tidak sebanding dengan besarnya potensi zakat dan infak yang berhasil dikumpulkan berbagai lembaga penyalur zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Sebab, jumlah dana ZIS yang berhail dikumpulkan hanya sekitar seperempat dari dana masyarakat yang dipakai untuk melakukan umrah.

''Potensi dana zakat yang berhasil dikumpulkan oleh lembaga ZIS per tahun hanya Rp 6 triliun. Bila kemudian digabung dengan dana ZIS yang disalurkan di luar lembaga itu yang jumlahnya diperkirakan mencapai Rp 6 triliun, maka jumlah seluruh dana ZISlah seluruhnya per tahun hanya Rp 12 trilun. Jummlahnya ini hanya seperti atau setengah dana yang setiap tahunnya dipakai untuk umrah itu,'' ujarnya.

Gus Solah pun kemudian menyerukan agar semua pihak bisa mencontoh perilaku Rasulullah SAW di dalam mengerjakan umrah atau pun berhaji.

"Rasulullah pun tidak setiap tahun berangkat haji. Seanjang hayat dia hanya tiga kali melakukan umrah. Sedangkan untuk haji beliu melakukannya sekali saja. Untuk itu mohon dipikirkan bagi jamaah yang tiap tahun berumrah, apakah infak mereka sudah sebanyak dana yang dipakai untuk berumrah tersebut,'' kata Gus Solah.

Redaktur : Muhammad Subarkah