Warga Gaza Impikan Ka'bah Meski Hidup Terkurung
Selasa , 07 February 2017, 04:23 WIB

Warga Palestina membangun kembali terowongan yang hancur di sepanjang perbatasan Gaza Mesir di Rafah, bagian selatan Jalur Gaza, Selasa (27/11). (AP/Adel Hana)

Setiap 10 hari terakhir di buan Ramadhan selama dua dekade terakhir, Mouin Mushtaha selalu pergi umrah ke Makkah. Namun, kali ini –pada 2012- ada pengecualian. Meski Ramadhan telah tiba, dia hanya duduk murung sembari menonton tayangan televisi yang diputar di kantornya yang berada di Gazza City Palestna.

Perasaan dia bercampur aduk. Bagi Musthaha pengalaman spiritual pergi ke tanah suci kini lenyap. Tak hanya itu, peluang melakukan bisnis memberangkatkan jamaah melakukan ziarah Ramadhan ke Arab Saudi kini ikut terlepas dari genggaman. Kepergian ke Makkah kini tak mungkin bisa dilakukan karena kini pintu gerbang Raffah yang menuju Mesir tertutup rapat sebagai imbas adanya peristiwa serangan yang menewaskan 16 tentara Mesir.

"Saya, istri saya, dan 500 klien kami seharusnya berada di Makkah sekarang," kata Mushtaha (64 tahun), sembari menunjuk televisi di kantor ber-AC dari agensinya, Perusahaan Mushtaha Pariwisata dan Travel, kepada The New York Times (17/8/2012).

"Apalagi istri saya mengucurkan air mata ketika ia melihat Ka'bah," tambah dengan suara sedih karena mengingat kembali pada bangunan berbentuk kubus yang berada di tengah Masjidil Haram, Makkah.

Saat itu, sepekan setelah terjadinya serangan kepada para penjaga gerbang Rafah, para pejabat Mesir memutuskan menutup jalur itu secara penuh. Mereka melakukan hal itu karena menduga bila para pelaku penyerangan yang ditengarai dari warga yang datang dari Gurun Sinai, memiiki hubungan khusus dengan warga yang tinggal di Jalur Gaza.

Memang pintu perbatasan Rafah sempat dibuka kembali dalam beberapa hari sebelum pekan terakhir di bulan Ramadhan tiba. Namun, warga yang kemudian mendapat izin pergi ke luar negeri adalah bukan warga yang akan ke Saudi Arabia, melainkan hanya diberikan secara terbatas kepada mereka yang akan pergi ke berbagai negara Arab yang lain atau negara Eropa untuk kepentingan bantuan kemanusiaan. Alhasil Musthaha pun hanya bisa gigit jari.

Hamas sebenarnya selaku pengatur keamanan di Gaza sebenarnya telah membantanh tudingan Mesir bahwa ada warganya yang terlibat dalam serangan fatal kepada para tentara Mesir itu. Mereka saat itu juga telah menutup terowongan penyelundupan ke Mesir sebagai tanda bahwa Hamas bersedia melakukan kerja sama.

Bagi warga Gazza yang akan ke Makkah untuk umrah, pintu gerbang Rafah mempunya posisi yang sangat penting karena mereka tidak bisa melintas di pintu gerbang yang lain, misalnya melakukan perjalanan melalui Israel. Maka dengan ditutupnya pintu gerbang Rafah itu jelas menjadi pertanda buruk bahwa kepergian ke Makkah pada akhir Ramadhan ini tak bisa dilakukan. Ziarah umrah yang dianggap sebagai ‘haji kecil’ pun hanya menjadi impian. Padahal, bagi mereka banyak yang percaya bahwa melakukan umrah di akhir Ramadhan pahalanya setara dengan naik haji di bulan Dzulhijah.


Redaktur : Muhammad Subarkah
Sumber : the new york times