Ini Klasifikasi Jamaah Haji Risiko Tinggi
Jumat , 09 June 2017, 13:50 WIB

Antara/Mohamad Hamzah
Seorang calon jamaah haji melakukan tes pemeriksaan kesehatan saat masuk di Asrama Haji Palu, Sulawesi tengah, Senin (15/8).

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Kementerian Kesehatan Indonesia mendata jumlah jamaah haji Indonesia dengan risiko tinggi sebanyak 63 persen. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Dr. Eka Jusuf Singka, MSc menyampaikan jumlah ini berdasar pada tiga kategori.

"Jamaah haji risti (risiko tinggi) mencapai 63 persen, secara umum diatas 60 tahun dan atau yang punya penyakit," kata Dr. Eka saat dihubungi Republika. Sementara, jumlah jamaah yang berusia diatas 75 tahun mencapai 11.500 orang.

Dr. Eka menjelaskan ada tiga kategori yang termasuk jamaah risti. Pertama, jamaah haji dengan umur diatas 60 tahun tanpa penyakit. Kedua, jamaah haji dengan umur diatas 60 tahun dengan penyakit. Ketiga, jamaah haji berusia dibawah 60 tahun dengan penyakit.

Tiga golongan ini diberi masing-masing tanda. Gelang hijau untuk golongan pertama, gelang merah untuk golongan kedua dan gelang kuning untuk golongan ketiga. "Semua ini dikelompokkan sebagai jamaah haji resiko tinggi," kata Dr. Eka.

Pemerintah menerapkan Permenkes No. 15 tahun 2016 tentang istito'ah untuk menangani hal ini. Istito'ah memiliki arti kemampuan. Setiap jamaah diperiksa untuk diketahui kadar kemampuannya melakukan haji. Apakah layak atau tidak.

"Jadi, dilakukan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan sejak minimal dua tahun sebelum keberangkatan," kata Dr. Eka. Mulai dari pembinaan senam kebugaran, penyuluhan konseling, pemanfaatan pos pembinaan terpadu, hingga manasik kesehatan.

Jamaah kemudian menjalani pemeriksaan apakah memenuhi syarat istitoah atau tidak. Menurut Dr. Eka, pemeriksaan tahap kedua sedang  dilakukan di level kabupaten/kota. Pemeriksaan ketiga akan berlangsung di embarkasi, asrama haji. 

"Ini untuk menentukan layak atau tidaknya jamaah haji terbang," kata dia. Hingga tahap ketiga, masih ada kemungkinan jamaah ditunda keberangkatannya. Contoh, jamaah yang tidak divaksin meningitis, kena penyakit cacar, atau penyakit menular lainnya.

Selama di Tanah Suci, seluruh jamaah akan dikawal secara penuh oleh tim kesehatan. Tim tenaga medis Kemenkes akan mengawasi melalui kegiatan pelayanan, pembinaan dan perlindungan kesehatan. 

"Contohnya, diberikan penyuluhan untuk pakai masker, sering minum, memakai //water spray//, untuk menghindari head stroke," kata Dr. Eka. 

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : LIDA PUSPANINGTYAS