Alat Bantu Jantung dan Pernapasan Dibutuhkan di Sektor
Selasa , 20 June 2017, 00:13 WIB

Republika/ Amin Madani
Petugas haji dari Sektor Khusus, memberi minum kepada calon jamaah haji yang tersesat di Masjid Nabawi, sebelum diantar ke tempat pemondokan. (Republika/Amin Madani)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Sub Seksi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Madinah Ika Nurfarida Sholeh berharap tiap sektor memiliki alat elektro kardiografi (EKG) sebagai alat bantu jantung dan nebulizer (alat untuk melonggarkan saluran napas).

Dia mengatakan pelayanan kesehatan di tiap sektor membutuhkan alat diagnostik supaya tindakan darurat bisa dilakukan dengan cepat. Kedua alat tersebut, menurutnya, bukan hanya dibutuhkan di KKHI.

Pelayanan di tiap sektor dilakukan oleh Tim Gerak Cepat (TGC) yang sifatnya bergerak (mobile). TGC bersiaga di lima sektor di Daker Madinah.

"Kalau tidak terpenuhi (pengadaan alat) artinya ya niat baik kita mendekatkan pelayanan kepada jamaah kasus emergensi yang sebenarnya bisa kita selamatkan dalam satu periode tertentu (//golden period//) itu akan sedikit tertunda ya," katanya saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (19/6).

Ika mengatakan menjadi suatu hambatan jika pengadaan dua alat itu tidak terpenuhi. Menurutnya, meskipun alat itu bukan solusi untuk semua masalah kesehatan yang ada di lapangan, tapi setidaknya bisa untuk menyelamatkan nyawa jamaah yang menghadapi masalah jantung dan paru-paru.

Tahun lalu kedua alat bantu tersebut memang tidak ada karena memang pelayanan kesehatan di sektor merupakan strategi baru tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya tugas tim kesehatan hanya berkunjung (visitasi) ke kloter-kloter. Tidak ada pelayanan darurat penyelamatan nyawa atau tempat melakukan kegiatan stabilisasi.

"Untuk tahun ini strateginya kita lebih meningkatkan akses ke jamaah supaya lebih mudah mendapatkan pertolongan segera, karena memang dari angka statistik kasus yang terbanyak adalah paru-paru dan jantung," ujar Ika.


Redaktur : Hazliansyah .
Reporter : Ani Nursalikah