Shalat Sunah di Ambulans
Jumat , 11 August 2017, 19:15 WIB

Republika/Amin Madani
Caon jamaah haji yang sakit dibawa ke kendaraan ambulan.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Siti Aisayah dan Rohmah, dua calhaj yang sedang sakit, selang infus masih menempel pada tubuhnya. Keduanya berbaring lemah karena penyakit yang sedang dideritanya.

Keduanya mengangkat tangan Allahuakbar, takbiratulihrom, pertanda shalat sunah ihram, untuk umrah wajib dimulai. Rizki membimbing memandu keduanya melaksanakan shalat sunah ihram dan niat umrah wajib di miqat, Bir Ali.

Tak sama dengan jamaah lain, mereka shalat sunah di dalam masjid Bir Ali. Keduanya shalat sunah dalam ambulan dengan posisi berbaring.

Bisikan kalimat tauhid dan dzikir mengiringi setelah shalat sunah selesai. Kemudian keduanya berbaring. Beberapa kali dr. Andi dan Rizki, dokter dan perawat yang mendampingi menawarkan minum, setelah beberapa teguk, kemudian mereka berbaring lagi.

Dr. Andi dan Rizki, terus menatap kedua pasien, memperhatikan selang infus, agar tetap mengalir cairanya, serta siap menawarkan dan memenuhi apa yang dibutuhkan pasien.

Keduanya harap-harap cemas, sejak pagi dalam menyiapkan dokumen evakuasi jemaah haji sakit, memang sudah salah tingkah, ada saja yang terselip, terlupa, sehingga berulang-ulang melakukan pengecekan dokumen medis, obat dan dokumen paspor. Baik untuk dirinya maupun kedua jemaah haji yang sedang sakit.

“Lebih tegang menyiapkan evakuasi jamaah haji sakit, dibanding menyiapkan keberangkatan haji”, komentar dr. Andi seperti dilansir Kemenkes.go.id, Jumat (11/8)

Kedua petugas kesehatan ini selama kurang lebih 5 jam dengan mata terjaga, sekalipun terlihat pasienya tidur. Setelah sampai Mekkah, kemudian keduanya serah terima pasien dengan petugas Mekkah. Selanjutnya istrahat 6 jam, kemudian kembali lagi ke Madinah.

“Semoga tak ada lagi pasien yang di evakuasi, karena semua jemaah haji sehat”, katanya.

Tak terasa, spido meter menunjukan 140 km/jam, kemudian mengingatkan muklis, pengemudi ambulan untuk kembali ke posisi semula, maksimal 120 km/jam. “Maklum, jalan lurus, mulus dan kendaraan hanya sedikit yang melitas, berbeda seperti di tanah air”, katanya.

Redaktur : Agung Sasongko