35 Jamaah Sakit Telah Dievakuasi ke Makkah
Kamis , 17 August 2017, 14:53 WIB

Republika/Amin Madani
Caon jamaah haji yang sakit dibawa ke kendaraan ambulan.

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Evakuasi jamaah haji yang sakit dari Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Madinah menuju Makkah telah dilakukan sejak 9 Agustus 2017. Hingga Rabu sore (16/8), tim KKHI telah mengevakuasi 35 jamaah sebanyak 18 kali. Evakuasi dilakukan dengan tiga ambulans yang sudah terstandar dengan berbagai perbekalan alat kesehatan yang ditetapkan.

"Pasien diupayakan evakuasi dengan posisi yang mudah dipindahkan, terjamin selama perjalanan dan tidak mengalami keluhan," kata Penanggung Jawab Evakuasi KKHI Tia Astriana saat ditemui, Wartawan Republika.co.id, Ani Nursalikah, Rabu (16/8).

Jamaah yang dievakuasi kondisinya bermacam-macam. Beberapa jamaah sudah membaik dan ada juga yang sudah dinyatakan sembuh. Jamaah yang dievakuasi adalah yang kondisinya telah stabil. "Jangan sampai ada kondisi yang mengancam nyawa pasien atau ada perburukan saat perjalanan," katanya.

Dalam sehari, KKHI mengevakuasi empat hingga sembilan jamaah, tergantung kondisi mereka. Ada yang dievakuasi dalam kondisi tidur dan duduk. Jika duduk, ambulans bisa mengangkut tiga sampai empat jamaah.

Tia mengatakan, tenggat waktu evakuasi semua jamaah sakit, baik di KKHI maupun di rumah sakit Arab Saudi adalah 19 Agustus. Pada 21 Agustus petugas kemungkinan akan bergeser ke Makkah.

Namun, target tersebut bisa diperpanjang jika ada jamaah yang belum bisa dievakuasi. "Petugas pasti menunggu sampai semua jamaah bisa dievakuasi," ujarnya.

Tia menambahkan, masalah administrasi menjadi hambatan mengevakuasi jamaah haji sakit. Dia mengaku telah mewanti-wanti petugas kloter agar menyelesaikan proses administrasi jamaahnya yang sakit.

Dalam beberapa kasus, paspor jamaah sakit terbawa rombongannya ke Makkah sehingga paspor harus dicabut. Proses pencabutan ini bisa berlangsung selama satu hari.

"Sangat disayangkan ada empat orang yang terkendala ke Makkah, padahal sudah bisa dievakuasi," ujar Tia yang sehari-hari bertugas di Serang, Banten. Dia berharap, petugas kloter bisa lebih memperhatikan paspor jamaah yang sakit.

Redaktur : Agus Yulianto