Hentikan Haji Sebagai Gaya Hidup
Kamis , 24 Agustus 2017, 08:29 WIB

ROL/Sadly Rachman
Suasana Tawaf di Masjidil Haram

IHRAM.CO.ID, Adanya adat istidat dan tradisi di Afghanistan, membuat orang-orang melakukan haji berulang kali. Selain itu, mereka pun harus memberikan hadiah dan mengadakan pesta besar-besaran sepulangnya. Hal ini tentunya mengeluarkan banyak biaya dari yang semestinya, yaitu 2.500 dolar Amerika per orang.

Afghanistan memang memiliki kuota haji 30 ribu dan ribuan orang setiap tahunnya pulang balik ke Makkah. Menghindari kritik sosial, orang-orang yang mampu berhaji, tidak melakukan ziarah yang biasanya dilakukan saat haji. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya.

Sebagian orang mengecam hal ini, karena dinilai tidaklah etis dan dibenci dalam Islam. Mengingat di Afghanistan tingkat pengangguran yang tinggi, serta adanya perang yang berkepanjangan hingga 1,2 juta penduduk mengungsi dan tergantungnya pada bantuan Internasional.

"Mereka yang pergi untuk kunjungan kedua, ketiga atau keempat pada haji, tanpa pembenaran agama, harusnya mereka tahu bahwa mereka melakukan kesalahan, atau jika saya dapat mengatakan, sebuah dosa besar," kata Fazl Ahmad, seorang penduduk provinsi barat Herat, seperti dilansir Arab News, kemarin. Saat itu, dia sedang menunggu peneyelesaian dokumen haji.

Fazi mengatakan,i telah melakukan kampanye di lingkungannya dan di masjid-masjid untuk memberitahu orang-orang bahwa Tuhan akan jauh lebih senang dengannya. Itu, jika mereka memberikan uang untuk perjalanan haji yang berulang-ulang, kepada orang miskin yang membutuhkan.

Fazl mendapat masukan dari teman-teman seperjuangannya yang terdiri dari orang tua bahwa kampanye kesadaran publik nasional bahkan internasional mengenai hal ini haruslah digaungkan. "Tuhan ada di hati orang miskin yang menjadi calon  haji atau yang berhaji. Mereka mendapatkan izin dari Tuhan dalam melakukan perjalanan ke Arab Saudi," ungkapnya.

Keinginan kuat untuk mengunjungi tempat suci umat islam membuat jamaah harus rela menunggu giliran selama delapan tahun. Diwajibkan menyetor 500 dolar Amereika terlebih dahulu sebelum mereka menabung.

Sayed Masood seseorang yang bertanggung jawab di Departemen Pendidikan Islam TV Nasional menyebutkan, total yang disetorkan mencapai puluhan juta dolar. "Ini adalah masalah serius. Ini menjadi pertanyaan bagi saya mengenai apa yang terjadi dengan uang yang disimpan di bank. Saya sangat berpikir bahwa mereka (bank) menjalankan bisnis dalam hal ini. Ini adalah masalah yang perlu diselidiki," ujarnya.

Jamaah mengatakan bahwa mereka tahu tentang akumulasi uang, tapi tidak tahu siapa yang mendapat keuntungan dari bisnis bank tersebut.

Ishaq Arab, juru bicara Kementerian Haji dan Kepercayaan Agama membenarkan tabungan tersebut. Namun tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai uang hingga jutaan dolar yang disimpan bertahun-tahun di bank tersebut.

"Uang itu disimpan di bank dan akan diserahkan kembali ke ahli waris almarhum," katanya dalam sebuah wawancara singkat melalui telepon.

Masood telah mengunjungi Makkah di masa lalu dan banyak melakukan liputan di berbagai tempat ziarah tahunan untuk media tersebut. Ia mengatakan, penyuapan, nepotisme, dan patronase akan memudahkan proses pengiriman haji Afghanistan.

Namun, ia mengatakan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, jamaah Afghanistan sekarang memiliki akses ke akomodasi transportasi dan fasilitas lainnya yang lebih baik.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : mgrol97