‘Kami Ikhlas Melepas Kepergianmu Selamanya di Tanah Suci’
Kamis , 24 August 2017, 09:14 WIB

Republika/ Nashih Nashrullah
Dirjen PHU Kemenag Nizar Ali mendoakan jamaah haji wafat, Muhammad Taif.

IHRAM.CO.ID,  Tak ada firasat apapun sebelumnya di benak Zunaidah, lelaki yang setia mendampinginya selama kurang lebih 40 tahun, sang belahan hati, Muhammad Taif bin Harun Abu Bakar meninggal dunia di tanah suci, Makkah, Sabtu (19/8).

Keduanya bahkan beberapa saat sebelum berpisah, untuk selamanya, sempat berbincang-bincang di pemondokan tempat mereka berdua tinggal selama di Makkah, yaitu Hotel Al Keswah, Sektor 10.  

“Kami masih bercengkerama bersama jamaah lain di hotel malamnya,” kata jamaah haji kelompok terbang (kloter) I asal Embarkasi Batam (BTG I) tersebut dengan nafas yang terputus-putus, air matanya terurai, tak terbendung.

Semua terjadi begitu cepat. Sabtu pagi waktu itu, setelah melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, tiba-tiba Muhammad Taif mengalami batu-batuk hebat dan muntah-muntah, tak ada tanda darah keluar.

Sejak berada di Madinah, almarhum memang hanya batu pilek biasa. Penyakit bawaan sejak tanah air, adalah stroke ringan, meski selama berada di Arab Saudi, tak ada gejala apapun yang menandakan penyakitnya tersebut kambuh.

Tim kesehatan yang berada di sektor lantas membawa almarhum ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang berada di Distrik Aziziyah, Makkah, menggunakan ambulanse.

Zunaidah turut menyertai sang suami. Tanda kehidupan masih tampak selama berada di perjalanan. Secara perlahan, Zunaida merasakan genggaman tangan sang suami mulai melemah. Tak ada gerakan dari fisik sang suami yang terbaring tepat di hadapannya.

Tepat pukul 08.30 waktu Arab Saudi, dokter sektor yang menyertai menyatakan bahwa Muhammad Taif, telah pergi untuk selama-lamanya. “Saya peluk suami saya erat-erat,” kata Zunaida seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah Arab Saudi. Muhammad Taif pergi meninggalkan istri dan satu orang anak.    

Adik kandung almarhum, Sulastri, mengisahkan kemauan kuat kakaknya tersebut untuk menginjakkan kaki di tanah suci dan menyempurnakan rukun Islam kelima.

Segenap keluarga semula sempat ragu dan mengingatkan kesehatan almarhum. Bahkan, seandainya memang kondisi fisik tak mengizinkan, keluarga mengharapkan beliau menunda kepergiannya berhaji tahun ini, tetapi beliau berkemauan keras. Ingin tetap melaksanakan haji, apapun risikonya. “Almarhum tetap ngotot mau berangkat,” kata dia.  

Muhammad Taif menunaikan haji bersama istri dan adik kandungnya, Sulastri. Mereka berangkat dari Embarkasi Batam. Selama tinggal di pemondokan, Sulastri pun mengaku tak pernah ada pesan khusus.

Hanya sekali, kali itu saja, saat sang kakak, tiba-tiba pernah memeluknya erat, erat sekali di pemondokan, kendati tidak ada pembicaraan apapun. “Kami ikhlas melepas kepergianmu selamanya di Tanah Suci,” kata Sulastri. Kabar duka kepergian almarhum di tanah suci Makkah telah diterima secara ikhlas oleh segenap keluarga di kampung halaman.

Di ruangan lobi KKHI, sejumlah petugas dan jamaah haji mendoakan wafatnya almarhum, bersama-sama Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Nizar Ali. Tangis duka pecah di ruang tunggu pasien.

Terbawa dalam suasana duka, Nizar Ali juga tidak dapat menahan air matanya. "Ibu harus bersabar, Insha Allah suami Ibu dapat tempat yang layak di dalam surganya Allah," kata Nizar sambil mengusap air matanya. Selamat jalan almarhum, selamat jalan sebagai tamu Allah SWT di tanah suci, selamanya.     

 

Redaktur : Nasih Nasrullah