Peristiwa Jamaah Lupa Arah Pulang di Nabawi Turun Drastis
Ahad , 24 September 2017, 17:52 WIB

Republika/Ani Nursalikah
Petugas haji mendata jamaah yang tersesat di sektor khusus di Pintu 21 Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Sabtu (5/8).

IHRAM.CO.ID, MADINAH -- Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah Ali Nurrokhim mengatakan bahwa peristiwa jamaah lupa arah pulang di Masjid Nabawi pasca puncak haji menurun drastis jika dibandingkan dengan peristiwa sebelum puncak haji. Jamaah haji Indonesia diberangkatkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama mendarat di Madinah untuk menjalani ibadah Arbain di Masjid Nabawi. Setelah itu, mereka diberangkatkan ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji.

Sebaliknya, jamaah gelombang kedua mendarat di Jeddah lalu ke Makkah. Setelah menjalani ibadah haji, mereka diberangkatkan secara bertahap sejak 12 September 2017 menuju Madinah untuk melaksanakan ibadah Arbain di Masjid Nabawi.

“Sampai dengan hari kedua belas kedatangan jamaah gelombang kedua ke Madinah, kasus jamaah lupa jalan pulang ke hotel saat akan pulang dari Masjid Nabawi sangat sedikit,” ujar Ali Nurrokhim di Madinah, Sabtu (23/9).

“Tercatat hanya ada 193 kasus. Padahal pada periode gelombang pertama, jumlahnya mencapai ribuan,” lanjutnya.

Menurut Ali, ada beberapa penyebab terjadinya penurunan angka jamaah lupa arah pulang. Pertama, pengalaman menangani jamaah gelombang pertama menjadi referensi petugas linjam dalam mengoptimalkan perlindungan jamaah gelombang kedua.

“Menyambut kedatangan jamaah gelombang kedua, petugas linjam Daker Madinah telah mengambil langkah-langkah antisipatif agar masalah pada gelombang pertama tidak terulang,” kata Ali. Langkah itu misalnya dengan memperketat pengawasan pergerakan jamaah, mulai dari hotel, saat di Masjid Nabawi, dan ketika kembali.

Kedua, jamaah gelombang kedua sudah mempunyai pengalaman berkegiatan di Masjidil Haram, Makkah. “Pengalaman selama di Makkah menjadi bekal antisipasi diri para jamaah saat di Madinah,” ucap Ali.

“Ini terbukti jamaah gelombang kedua lebih berkonsentrasi pada kegiatan Arbain. Aktivitas di luar ibadah seperti belanja dan lainnya bisa jadi mereka sudah lakukan saat di Makkah,” lanjutnya.

Ketiga, antar jamaah gelombang satu dan dua telah berbagai cerita saat sama-sama berkumpul di Makkah untuk menjalankan ibadah haji. “Bisa jadi, mereka sudah punya tips dari pengalaman jamaah gelombang satu saat ketemu di Makkah,” kata Ali.

Ali menambahkan, terjadinya peristiwa jamaah lupa arah pulang ke hotel di Madinah, karena sebagian dari mereka, utamanya yang lansia, susah menghafal nama hotel. Berbeda dengan di Makkah, hotel di Madinah tidak diberi nomor khusus sehingga jamaah harus menghafal nama hotel. Padahal, bagi sebagian orang, menghafal nomor jauh lebih mudah, apalagi nama hotel di Madinah cukup panjang.

Ini tidak terlepas dari sistem sewa hotel yang bersifat blocking time. Hotel tidak bisa diberi nomor karena tidak sepenuhnya ditempati jamaah haji Indonesia. Ali berharap, ke depan hotel yang ditempati jemaah di Madinah bisa diberi nomor hingga mudah diingat jamaah.

Redaktur : Agus Yulianto
Sumber : kemenag.go.id
BERITA TERKAIT