Belajar Kitab
Mengubah Kepekaan
Selasa , 14 November 2017, 22:30 WIB

AP Photo/ca
Jamaah haji melaksanakan thawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Begitulah Ali Syariati seorang cendekiawan Muslim asal Iran menekankan akan pentingnya melaksanakan ibadah haji dalam kitabnya Al-Faridhah al-Khamisah. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya sekadar ibadah ritual dengan memakai ihram, melakukan tawaf (mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran), sai (berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah), melempar jumrah (dengan batu kerikil ke tiang jamarah), wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah, lalu bertahalul (memotong rambut).

Menurutnya, seorang manusia penting untuk memahami fungsi dan perannya masing-masing. Manusia sebagai khalifah di muka bumi berkewajiban melaksanakan segala amanah yang diberikan oleh Allah, termasuk dalam melaksanakan ibadah haji. Bukan hanya sekadar ritual, melainkan juga memahami makna di balik setiap prosesi ibadah haji.

Misalnya, ketika seseorang telah melepaskan pakaiannya kemudian berganti dengan pakaian ihram, seharusnya mereka juga melepaskan seluruh atribut keduniaan untuk mengabdi hanya kepada Allah. Mereka harus tunduk pada aturan yang telah diputuskan.

Di sini juga dapat dipahami bahwa manusia harus berani dan rela melepaskan kedudukan, jabatan, dan semua formalitas di dunia ini di hadapan Allah. Semua manusia sama, berpakaian sama, ibadah yang dilaksanakan juga sama.

Lalu, ketika mereka melaksanakan tawaf, kata Syariati, semestinya manusia, dan umat Muslim khususnya, dapat memahami bahwa dia sedang menjalani putaran waktu yang amat cepat. Karena itu, seorang manusia harus bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila salah, akibatnya akan fatal, yakni akan berhadapan dengan gelombang mahadahsyat yang siap menenggelamkannya.

Demikian pula saat mengerjakan sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah. Ritual lari-lari kecil yang merupakan simbol usaha dari Siti Hajar itu harusnya dipahami sebagai sebuah usaha yang harus dilakukan. Sai adalah perjuangan, demikian tulis Syariati. Yakni, perjuangan atau usaha mencari kehidupan yang diridhai oleh Allah.

Saat melempar jumrah, jamaah haji harus memahami bahwa banyak godaan yang dialami setiap manusia. Karena itu, dengan tegas mereka harus berani menolaknya dengan usaha melempar simbol penggoda tersebut.

Ketika melaksanakan wukuf di Padang Arafah, jamaah haji harus memahami bahwa itu adalah gambaran saat-saat manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar ketika kiamat terjadi.

Tak ada dapat bisa menolong. Seluruh umat manusia hanya memfokuskan dirinya sendiri. Karena itu, mereka harus banyak merenung, bermunajat, dan memohon ampun kepada Allah atas beragam macam perbuatannya selama di dunia.

Padang Arafah juga merupakan gambaran saat manusia akan ditimbang segala amal perbuatan baik dan buruk. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah.

Maka, ketika semua prosesi ini telah dilaksanakan dan catatan amal diterima, manusia hendaknya segera membersihkan diri dengan bertahalul, yakni memotong rambutnya.

Makna filosofis inilah yang tampaknya diharapkan oleh setiap jamaah haji ketika mereka melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Sebab, tanpa memahami makna di balik ritual tersebut, ibadah yang dilaksanakan pun akan terasa hambar tanpa kesan.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Nashih Nasrullah
BERITA TERKAIT