Ini Solusi KPHI Bagi Pelayanan Jamaah Haji di Mina
Rabu , 06 December 2017, 13:02 WIB

Republika / Darmawan
Ketua Komisi Pengawasan Haji Indonesia (KPIH) Samidin Nashir

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), M. Samidin Nashir mengatakan, kurang memadainya ruang tenda dan keterbatasan jumlah MCK (toilet) merupakan masalah utama dalam pelayanan haji di Mina tahun ini. Ruang tenda dan jumlah MCK, saat ini, dinilai tidak sebanding dengan jumlah jamaah haji yang kian meningkat tahun ini.

Pelayanan yang buruk di Mina inilah yang, menurut Samidin, menjadi salah satu penyebab menurunnya kondisi daya tahan fisik jamaah. Karena itu, sebagai solusi, Samidin menyarankan, agar pemerintah Arab Saudi menambah jumlah tenda di Mina.  Begitu pula dengan jumlah toilet, yang dikatakannya, perlu ditambah atau ditingkat.

"Solusinya, kalau memungkinkan dibuat tenda bertingkat. Kalau tenda ditingkat, maka MCK itu bisa juga berada satu paket dengan tenda," kata Samidin, saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (6/12).

Kalaupun tidak memungkinkan dikerjakan segera, Samidin mengatakan, jamaah haji yang tinggal di hotel dekat dengan jamarat agar diizinkan untuk mabit di pondokan (hotel). Karena ada beberapa hotel yang dekat dengan jamarat. Misalnya, hotel 601, 602, dan yang lainnya.

Samidin mengatakan, jarak dari hotel tersebut ke Jamarat bahkan lebih dekat daripada dari kawasan tenda-tenda di Mina. Menurutnya, hotel-hotel itu memang bukan masuk dalam kawasan Mina, tapi sangat dekat dengan batas Mina.

Dalam hal ini, mabit di pondokan tidak tidak mengurangi keutamaan berhaji. Kewajiban dalam berhaji adalah mabit (bermalam) di Mina. Akan tetapi, kata dia, bermalam di Mina tidak berarti harus tidur semalam suntuk di tenda-tenda di Mina.

"Yang dimaksud Mabit adalah tinggal di sebagian malam, bisa mulai terbenam matahari. "Keutamaannya mabit sampai fajar, tapi sampai jam 12 malam juga cukup. Di malam hari, jamaah bisa keluar dari hotel dalam rangka melontar jumrah sekaligus mabit di Mina. Jadi istirahatnya di hotel, siang misalnya di hotel," ujar dia.

Sebagai solusi yang lain, Samidin menyarankan, agar beberapa tenda yang dipakai jamaah haji plus bisa direposisi atau dipindahkan ke tenda yang ada di dekat jamarat. Dengan demikian, jamaah haji reguler bisa menggunakan tenda tersebut.

Dia mengatakan, jamaah haji asal Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bermalam di tenda yang ada di lembah Muhassir. Area itu dikatakannya cukup sempit untuk menampung jamaah haji saat ini.

Di sisi lain, pihak pemerintah Saudi sendiri masih keberatan untuk membangun tenda bertingkat. Hal itu dikarenakan pertimbangan syar'i, keamanan, dan lainnya.

Selain tenda dan MCK, Samidin juga menyoroti soal transportasi dari pondokan menuju Arafah. Menurutnya, kualitas bus yang digunakan memang kurang baik. Banyak bus yang mengalami mogok.

Buruknya kondisi bus tersebut, menurutnya, bukan hanya terjadi pada jamaah reguler, tetapi juga termasuk jamaah khusus. Bahkan, kata dia, tak sedikit jamaah khusus yang menggunakan bus sekolah. Hal ini, dikatakannya, menjadi catatan bagi pemerintah Saudi untuk memperbaiki transportasi dan pelayanan lainnya di Mina.

"Karenanya KPIH mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan negosiasi dengan Arab Saudi, agar pelayanan di Mina diperbaiki," ujarnya.

Dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kepuasan pelayanan jamaah haji di Mina pada 2017 menurun dari tahun sebelumnya. Hal itu mencakup dari pelayanan transportasi, katering, dan tenda. Pelayanan tenda di Mina merupakan indeks kepuasan terendah, yaitu sebesar 75,55 persen atau turun 1,75 poin dibandingkan 2016 lalu.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Kiki Sakinah