Muslim Bosnia: Bagaimana Kita Pantas Terima Pembantaian Ini?
Sabtu , 16 Desember 2017, 08:27 WIB

muhammad Subarkah
Perempuan Bosnia hiseris di depan pasukan Perdamaian PBB asal Belanda. Dia meanangisi kelarganya yang menjadi korban pembantaian Serbia. Foto ini ada di dinding Museum Pembantaian Muslim Bosnia di Srebencia.

Eldin Elezovic memimpikan menjadi bintang sepak bola saat tumbuh di Stolac, sebah kota kecil di Republik Bosnia dan Herzegovina yang dulu menjadi wilayah bagian Yugoslavia. Pada bulan Juni 1993 itu, ia ingat menghabiskan hari musim panas dengan bermain sepak bola bersama teman-temannya. Namun, arena permainan itu ternyata hanya akan menjadi hari terakhir kebebasannya untuk sembilan bulan ke depan.

"Kami belajar tentang kamp Auschwitz dan Nazi di sekolah menengah atas," kata Elezovic, yang berbicara di Queens, New York, tempat dia tinggal sejak 1997. "Kami tidak pernah menyangka (perlakuan seperti Nazi kepada kaum Yahudi) ternyata kemudian akan terjadi pada kami, tapi memang begitu,’’ katanya dengan nada suara yang sedih.

Seusai Yugoslavia pecah, pasukan Serbia menyerbu kampungnya. Elezovic dan kakak laki-lakinya, Remzo dan Jasmin, pun ditangkap dan dipenjara - bersama ayah mereka dan ribuan pria Muslim Bosnia lainnya, atau Bosniaks. Mereka ditangkap oleh pasukan Dewan Pertahanan Kroasia (HVO). HVO adalah sayap militer sebuah entitas teritorial yang tidak dikenal yang disebut Republik Herceg-Bosna yang digunakan oleh nasionalis Bosnia Kroasia untuk membangun perang Bosnia selama 1992-1995. (Keterangan foto: Elezovic berpose di luar restoran bernama 'Sarajevo Cevabdzinica' di Queens, New York. Dia sempat mendekam sembilan bulan lamai di kamp penjara Gabela yang dikelola Kroasia pada tahun 1993. Foto: Al Jazeera.com)

 Orang-orang Elezovic dibagi di antara tiga dari sekitar setengah lusin kamp penjara yang dikelola oleh HVO di Herzegovina. Ada pertempuran sengit antara tentara Bosnia dan pasukan HVO selama musim panas, orang-orang tersebut ditangkap. Namun Elezovic - sekarang presiden Kongres Bosniaks Amerika Utara - mengatakan bahwa penangkapan tak dapat dimengerti karea anggota keluarganya tidak berafiliasi dengan kelompok bersenjata manapun.

Elezovic mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ceritanya tentang bertahan di pusat penahanan Gabela, di mana sekitar 1.500 orang ditahan di tiga gudang penyimpanan besar pada Agustus 1993.  Menurut kesaksian dari mantan tahanan dan mengatakan bahwa pihak berwenang Bosnia Kroasia memberikan nasib para pengungsi  kepada Human Rights Watch.

"Saya seperti setiap remaja normal saat saya tumbuh dewasa. Film pertama yang pernah saya lihat di bioskop adalah Top Gun, yang masih merupakan film favorit saya. Saya bermimpi suatu hari menjadi pemain sepak bola atau bankir,’’ kenangnya ketika mengingat segala mimpinya semasa sebelum pecahnya perang dan pembantaian.

Sebelum perang,  lanjut Elezovic, memiliki begitu banyak teman dari berbagai etnis atau agama mereka. Semua hal itu dia tak pernah persoalkan karena pihak orang tua selalu memberikan ajaran untuk menghormati  atas dasar perilakunya, bukan karena mereka Muslim atau Yahudi atau Katolik, atau agama lainnya. Namun, sejak agresi Serbia  dimulai, saat itulah pihaknya mulai menyadari adanya beberapa teman SMA yang tinggal di Mostar berada di sisi lain.

“Waktu saya ditangkap tentara baru berumur 18 tahun. Anggota tentara Kroasia dan penduduk lokal datang dan membawa saya keluar dari rumah saya, bersama dengan saudara laki-laki dan ayah saya. Mereka membawa saya ke kamp konsentrasi Gabela. Saya menghabiskan 273 hari di penangkaran. Saya tidak mengatur atau melakukan hal seperti itu; Itu hanya karena saya seorang Bosniak,’’ katanya lagi.

(Keterangan gambar di atas: Suasana kompleks pemakaman Muslim Bosnia korban pembantaian Serbia di Sarajevo. Bangunan yang di tengah adalah makam Presiden Pertama Bosnia, Alija Izetbegovic. Semasa hidupnya Alija berpesan bila meninggal maka makamkanlah di tengah rakyatnya yang menjadi korban pembantaian Serbia. Selain sebagai presiden Alija adalah sosok ilmuwan dan ulama).


Redaktur : Muhammad Subarkah
Sumber : al jazeera.com