Muslim Bosnia: Bagaimana Kita Pantas Terima Pembantaian Ini?
Sabtu , 16 December 2017, 08:27 WIB

Perempuan Bosnia menangis di depan peti mati suami dan anakna yang menjadi korban pembantaoan tentara Serbia pimpinan Jendral Ratcko Mladic.

Bangunan kamp pengungsi, lanjut Elezovic, merupakan gudang besar. Dinding dan atap bangunnya terbuat dari lembaran logam atau seng.  Akibatnya, suasana di dalam kamp sangat panas di dalam. Suasana makin pengap karena para pengungsi berjajalan di dalamnya. Ketika tidur para pengungsi kerap tidur dengan menimpa orang lain.

“Kami pun harus tidur di lantai beton yang kotor sekali. Mereka tidak akan membiarkan Anda pergi ke luar meski sekedar ke kamar mandi, Kesempatan membersihkan badan hanya diberikan sekali sehari. Bahkan, ada orang yang terpkasa buang hajat di suduk kamp di depan orang-orang sedang tidur di sana. Ini jelas sangat mengerikan,’’ kata Elezovic.

Bagi Elezovic yang sebelum masuk kamp beratnya badannya mencapai 64 Kg, ketika keluar dari kamp pengungsian bobotnya melorot drastis, tinggal 48 Kg. Bentuk tubuh s ini jelas mirip kerangka manusia yang bisa berjalan karena dengan bobot yang seperti itu tinggi badannya cukup menjulang, mencapai 1,9 M. (Keterangan Gambar: Bangunan kamp pengungs Bosnia di Srebenica. Bangunan ini berdinding dan beratap seng. Bangunan ini bekas pabrik pupuk.Foto:Muhammad Subarkah)

Namun, lanjut Elezovic, meskipun semua pemukulan dan penderitaan dan penghinaan, hidup tanpa makanan dan air serta dipaksa melakukan kerja paksa, namun ada satu hal yang membuatnya sangat sedih dan menjadi saat “tersulit" baginya yang  selama sembilan bulan hidup dalam kamp tentara Serba itu. Hal ini adalah ketika dia menyaksikan teman masa kecil, Mujo Obradovic, terbunuh.

“Saat itu aku mengantre untuk minum air. Tangki air berada di luar kamp dan para pengungsi akan mengantre untuk minum air sekali sehari. Pada saat itu, mereka membawa kembali orang-orang yang telah dipaksa melakukan kerja paksa hari itu. Mereka dibawa dari truk dan berbaris tepat di depan pintu masuk,’’ kata Elezovic.

Saat itu, orang yang bertugas di kamp tersebut, Bosko "Boko" Previsic, bertanya apakah ada yang punya makanan. Mereka bilang tidak, tapi temanku, yang berumur 18 tahun, punya sepotong roti di sakunya - sepotong roti kecil yang ingin dia bawa masuk. Aku berasumsi dia akan membawanya ke seseorang temanku Mujo yang mungkin sudah tidak makan selama berhari-hari,’’ lanjutnya.

Namun, saat bertemu kembali dengan Boko, dia mengatakan baru saja menembak Mujo. Elezovic  pun mengaku mendengar jawaban itu pikirannya langsung kosong. “Itu adalah hal tersulit bagi saya yang saat itu masih berusia sangat belia. Dan pada saat itulah pertama kalinya saya melihat mayat. Kami sekarang bisa hidup saling berbaagi dan merasa bahagia, dan teman saya Mujo terbunuh.”

"Sampai kini saya percaya bila Boko hidup dan masih bersembunyi di Kroasia.  Dia belum diadili untuk apapun. Dan setiap kali memikirkan soal itu, maka Elezovic mengaku langsung menangis. Menurutnya, ia  masih kerap tidak bisa tidur di malam hari, apalagi akhir-akhir ini ketika mendengar adanya pengadilan penjahat perang di  Bosnia,'' keluhnya.

“Saya masih bertanya, bagaimana? Mengapa? Bagaimana kita layak menerima ini? Tidak ada bahasa atau emosi yang cukup kuat untuk menggambarkan gambaran sebenarnya dari apa yang kita alami. Dan disinilah saya punya kewajiban  untuk menceritakan kisah-kisah ini. Sebab saya pikir itu itulah gunannya kita masih hidup - untuk memastikan kita menceritakan kisah-kisah ini sehingga tidak terjadi lagi. Jika kita gagal dalam hal itu, itu akan terjadi lagi dan akan semuanya akan menjadi terlalu terlambat,’’ ujar Elezovic. (Keterangan foto: Anak-anak Bosnia yang pada tahun 1993 hidup di kamp pengungsian. Gambar ini terpajang di dinding museum pembantaian Muslim Bosnia di Srebenica. Foto: Muhammad Subarkah)

 Elezovic  menyatakan bila dirinya dan para keluarga korban pembantaian Bosnia melihat ke masa depan. Mereka pun akan terus mengikuti proses pengadilan bagi para pelaku pembantaian di bekas negara Yugoslavia itu.

“Sama sekali tidak ada yang bisa menebus waktu yang hilang serta untuk nyawa yang hilang. Sama sekali tidak ada hukuman penjara yang akan membawa semua itu kembali. Tapi bagaimanapun itu  harus ada pelajaran bagi semua orang di dunia ini bahwa jika Anda melakukan kejahatan, maka bersiaplah untuk menghadapi hukuman di masa depan. Keadilan itu memang terkesan lamban bergerak, tapi pasti akan berhasil menyusul,’’ tandas Elezovic.

Redaktur : Muhammad Subarkah
Sumber : al jazeera.com