Haji 'Zaman Now', Benarkah Akan Semakin Mahal?
Kamis , 11 Januari 2018, 05:03 WIB

OldApp
Meminum air zamzam di Arafah.

Oleh Muhammad Subarkah, Pengamat Haji dan  Jurnalis Republika.

Minat berhaji masyarakat Muslim Indonesia ternyata sangat tinggi. Kini setidaknya ada 3,5 juta orang yang antre naik haji.Sudah ada lebih dari Rp 100 triliun setoran dana haji yang terkumpul. Di banyak daerah, terutama di Sidrap dan wilayah sekitar Sulawesi selatan, antrean haji sudah memasuki 40 tahun. Dan di daerah lain, rata-rata antrean sudah mencapai 20 tahun.

Di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, misalnya, minay untuk menunaikan ibadah haji sangat  tinggi. Apalagi belakangan hasi perkebunan mereka seperti lada putih dan karet berharga cukup lumayan di pasar internsional. Tapi ya itu, anteran haji sudah semakin panjang, "Banyak masyarakat yang mau berangkat berhaji, tetapi harus menunggu lama hingga 22 tahun," kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka, H Nasuti,  di Sungailiat.

Ia menjelaskan setiap tahun jumlah masyarakat yang akan berangkat ibadah haji semakin meningkat. Padahal kuota haji untuk Bangka tidak memadai. Kuota haji Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 1.062 orang jamaah per tahun atau sama seperti tahun yang lalu.


"Sekarang daftar tunggunya yang masih cukup lama, terkadang bisa mencapai puluhan tahun. Untuk itu banyak yang naik haji dipersiapkan sejak usia muda," ujarnya.

Selain lamanya antrean, minat haji masa kini juga terkendala dengan perubahan 'iklim bisnis' dan 'politik' di Arab Saudi. Pemerintah setenmpat seiring cdengan resesi ekonomi melakukan banyak perubahan aturan. Tujuannya cuma satu: bagaimana menanggung keuntungan ekonomi akibat haji --dan juga umrah -- sebanyak mungkin. Pemerintah Saudi Arabia kini menghadapi tekanan ekomi, baik akibat leorotnya harga minyak bumi atau juga akibat mengeluarkan dana yang begitu besar untuk membiyai perang di Suriah dan kini Yaman,

Berbagai cara telah ditempuh. Misalnya menyiadakan tiket haji visaa furodah  (visa caliing). yang berharga lumayan. Bila ONH plus harganya mencapai 8.000 dolar AS, haji furodah dijual di pasaran dengan pakey harga 18.000-22.000 dolar AS. Untuk hai furodah meang nyaman, meski mahal. Tahun ini pengin haji tahun ini bisa berangkat. Coba bandingkan dengan haji khusus yang atreannya bisa 7 tahun dan haji biasa yang antreannya bisa 20 tahun.

Memang, mau tidak mau haji semakin menantang. Di kalanganan negara Arab sudah ada target pada tahun 2030 mereka akan terima jamah haji hingga 10 juta orang per tahun. Dan umrah akan mencapai 10 juta per musim. Akibatnya, pembangunan aneka fasilitas terkait haji akan terus berlangsung secara besar-besaran. Kota dan hotel baru akan dibangun di Makkah. Fasilitas haji, misalnya Arafah dan Mina akan ditambah luas, meski sudah sangat sulit. Ada wacana akan membangun tenda bertingkat di Mina. Tapi entahlah akan bisa terwujud atau tidak?

Yang pasti, dengan bertambahnya zaman, kesempatan berhaji akan semakin langka dan mahal. Kini harga BBM dan pajak pertambahan nilai di Arab Saudi sudah dinaikkan. Harga-harga yang lain, misalnya bahan makanan akan ikut terkerek. Cerita makan bersama, terdiri atas empat orang yang cuma habis 20 Real Saudi akan tinggal kenangan. Harga sewa pondokan akan semakin mahal.

Apakah harga ongkos atau biaya penyenlenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2018 akan naik? Tampaknya, kenaikkan harga akan terjadi. Subsidi per jamaah sebesar Rp 26 juta yang didapat dari hasil optimalisasi setoran dana haji tak akan cukup lagi.

Kita berharap BPIH tidak naik sesuai dengan harapan DPR. Tapi, bila melihat keadaan harga di Arab Saudi yang cenderung naik, maka itu tak akan bisa dihindari. Marilah kita berdoa saja, biar Allah SWT yang menentukan.

Redaktur : Muhammad Subarkah