Jawaban Imam Masjidil Haram Soal Internasionalisasi Haji
Senin , 05 March 2018, 19:14 WIB

republika/irfan junaidi
Imam Besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As Sudais (kiri).

IHRAM.CO.ID, Laporan wartawan Republika Irfan Junaidi, dari Makkah

MAKKAH -- Senyum mengembang terpancar di wajah Imam Besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As Sudais saat membicarakan Islam di Indonesia. Di ruang kerjanya, tak jauh dari kompleks Masjidil Haram, dia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam dunia Islam dengan penduduk Muslim terbesar.

Saat ini, menurut dia, Islam menghadapi tantangan besar dengan munculnya kekuatan yang ingin menjalankan sabotase terhadap Islam. Karena itulah suara-suara yang menyerukan moderasi Islam menjadi sangat penting. Islam, kata Syeikh Sudais, sangat kuat menyerukan perdamaian. Umat Islam sendiri, banyak sekali yang juga merupakan manusia-manusia toleran.

Sesungguhnya, dalam pandangan dia, Islam adalah cantik. Karena itulah semua proses dakwah harus bisa memancarkan kecantikan Islam. “Islam tidak ada kaitan apa-apa dengan terorisme,” tutur dia akhir pekan lalu.

Sayangnya, Syeikh Sudais melihat bahwa saat ini ada kekuatan yang membajak Islam untuk memberikan citra yang buruk. Dalam beberapa kesempatannya bertemu para ulama, tokoh, juga kalangan akademisi di Indonesia, dia mengaku banyak mendengar keinginan untuk terus menyuarakan Islam yang toleran dan penuh kasih sayang terhadap alam semesta. Karena, tutur Presiden Otoritas Haramain (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) itu, Islam memang hadir untuk alam semesta.

Slogan-slogan politik dan sektarian, diyakininya sebagai musuh besar bagi Islam saat ini. Ajaran yang dibawa oleh agama tersebut adalah ajaran tentang, harmoni, damai, dan juga pentingnya menjaga persatuan. “Ini adalah era media. Kita harus bergandengan tangan untuk melayani Islam melalui era baru media digital,” tutur dia saat menerima kunjungan jurnalis dari Indonesia.

Salah satu opini yang dinilainya menjadi ancaman bagi persatuan Islam adalah soal internasionalisasi haji. Opini tersebut mengharapkan agar pengelolaan jamaah haji dilakukan dengan melibatkan komunitas internasional. Menurut Syeikh Sudais, Arab Saudi telah menjawab opini tersebut dengan pekerjaan yang nyata.

Berdasar perjalanan sejarah, wisdom keislaman, maupun fakta geografis, dia menegaskan, Arab Saudi memiliki otoritas penuh untuk melayani jamaah haji dan umroh. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, pemerintah Arab Saudi telah melakukan upaya terbaiknya menata Masjidil Haram juga Masjid Nabawi.

Selain itu, dia menambahkan, konsep untuk tidak saling mengintervensi sesama negara Muslim juga penting sekali untuk dihormati. Sikap saling menghormati kedaulan negara perlu ditumbuhkan di negara-negara yang berpenduduk Islam.

Dia lantas memberikan contoh soal pentingnya menghormati kedaulan negara itu dengan menyebut masjid Istiqlal. “Kalau saja, tiba-tiba ada pihak dari negara lain yang datang ke Indonesia dan terus menyatakan sebagai pihak yang berwenang mengelola Masjid Istiqlal, bagaimana sikap Indonesia,” ujar Syeikh Sudais.

Karena itulah prinsip untuk tidak saling mengintervensi harus dihormati. “Ini adalah norma dalam pergaulan dunia,” tutur dia. Begitupun dalam pengelolaan Haramain dalam melayani jamaah haji dan umrah dari berbagai negara. Pemerintah Arab Saudi telah memastikan bahwa Haramain saat ini dalam kondisi yang sangat aman. Lebih dari 100 ribu tentara dikerahkan untuk menjaga kedua masjid tersebut setiap hari selama 24 jam di bulan Ramadhan dan di musim haji.

Penghormatan terhadap prinsip untuk tidak saling mengintervensi juga diberikan Arab Saudi kepada negara-negara lain. “Kami tidak pernah mengintervensi Indonesia, Iran, juga negara lain,” kata Syeikh Sudais. Karena itulah, Pemerintah Arab Saudi juga menginginkan supaya kedaulatannya juga tidak diintervensi.

Semua upaya keras yang dilakukan Arab Saudi untuk melayani jamaah haji, dikatakannya, murni untuk menjaga persatuan Islam dan meningkatkan kenyamanan jamaah haji dan umrah. Dengan demikian, diharapkannya, semua jamaah haji dan umroh menjadi lebih soleh setelah menjalankan ibadah tersebut.

Redaktur : Dwi Murdaningsih