Ini Alasan Jamaah Haji 2018 Gunakan Gelang QR Code
Kamis , 22 Maret 2018, 16:55 WIB

Republika/ Amin Madani
Nasrullah Jasam

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Jamaah haji Indonesia akan menggunakan gelang yang dilengkapi kode QR (QR Code) pada pelaksanaan musim haji 1439 H/2018 M. Gelang tersebut berisi data jamaah haji.

Penggunaan QR Code, kata Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji Reguler Kementerian Agama Nasrullah Jasam, bertujuan untuk memudahkan petugas lapangan dalam melakukan identifikasi jamaah dan menghindari kekeliruan saat melacak data jamaah haji. Di samping itu, penggunaan gelang dengan QR Code lebih efektif dibandingkan gelang ber chip atau yang menggunakan GPS.

"GPS jika digunakan dalam jumlah jamaah yang besar dan waktu yang lama, banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Baik itu kekuatan baterainya, jaringan sinyalnya, apakah kita bisa dengan mudah menemukan titik di antara 221 ribu orang itu," kata Nasrullah, saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (22/3).

photo

Gelang Haji

Nasrullah lantas memaparkan soal kelemahan gelang dengan menggunakan GPS. Kata dia, gelang ber-GPS kemungkinan efektif jika digunakan dalam jumlah yang lebih sedikit. Itupun, menurutnya, jika gelang digunakan oleh jamaah yang melek teknologi.

Penggunaan GPS dalam gelang kemungkinan tidak efektif jika digunakan dalam jumlah jamaah haji yang besar, yaitu total 221 ribu jamaah haji. Jumlah itu, belum termasuk dengan petugas haji. Setiap kloter memiliki lima orang petugas, sehingga terdapat sekitar 1.500 petugas pada pelaksanaan haji tahun ini (5 petugas di masing-masing 500 kloter).

Selain itu, kata dia, penggunaan GPS juga membutuhkan baterai. Dalam hal ini, kekuatan baterai menjadi kendala jika baterai hanya bisa bertahan dalam waktu 3-5 hari atau dalam waktu terbatas.

"Itu tidak efektif, karena ketika baterainya habis, gelas ber-GPS itu tidak akan berfungsi. Kekuatan baterai yang tidak bisa tahan lama tidak bisa men-cover masa-masa yang paling penting, apalagi selama keberadaan jamaah haji di Saudi selama 41 hari," ujarnya.

Nasrullah menuturkan, ada masa-masa yang paling penting dalam pelaksanaan haji di tanah suci, yakni saat di Arafah, Mudzdalifah, dan Mina. Penggunaan baterai yang tidak tahan lama bisa menjadi masalah saat waktu-waktu terpenting selama lima hari tersebut.

Di samping itu, penggunaan GPS membutuhkan jaringan sinyal. Sedangkan di Saudi, ada sejumlah lokasi yang memang sulit untuk menjangkau atau mendapatkan sinyal.Di tempat-tempat tertentu seperti terowongan dan dengan jumlah jamaah haji yang padat, sinyal sangat sulit didapatkan.

Tidak hanya itu, biaya gelang ber-GPS yang sangat mahal, kata dia, juga perlu menjadi bahan pertimbangan. Menurutnya, keefektifan penggunaan GPS dalam gelang ini perlu dipertimbangkan dengan fungsinya apakah bisa menggantikan fungsi dalam gelang biasa.

Sebelumnya setelah penyelenggaraan ibadah haji 2017, Sekjen Kemenag Nur Syam mengatakan berencana untuk menerapkan gelang dengan GPS pada musim haji tahun ini. Penerapan gelang ber-GPS itu juga diusulkan oleh Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI).

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Kiki Sakinah