Setelah Pulang Haji, Jamaah India Semakin Resisten pada Obat
Rabu , 25 April 2018, 16:37 WIB

dok Republika
Tawaf ifadah di masjidil Haram Mekkah (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, HYDERABAD -- Sejumlah jamaah India yang kembali dari ibadah haji disebut resisten terhadap sejumlah obat. Mereka memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap obat untuk bakteri yang menyebabkan penyakit serius seperti pneumonia dan meningitis.

Bakteri Streptococcus pneumonia yang ditemukan pada jamaah haji yang baru pulang haji resisten terhadap beberapa obat, termasuk tetracycline dan erythromycin. Para pakar menilai hal ini harus ditindaklanjuti oleh pemerintah.

Dilansir Times of India, Selasa (24/4), mereka melaksanakan penelitian pada jamaah pada saat berangkat dan pulang haji. Hasilnya, pakar menilai harus ada pemeriksaan lanjutan terhadap kesehatan jamaah khususnya pada tingkat resistensi pada Streptococcus pneumonia.

India mengirimkan 180 ribu jamaah setiap tahunnya ke Makkah dan Madinah. Sekitar 10 ribu jamaah berasal dari Telangana dan Andhra Pradesh. Hyderabad mengirim jumlah terbanyak dari negara bagian Telugu.

Para peneliti berasal dari beberapa institusi penelitian dan rumah sakit termasuk Kempegowda Institute of Medical Sciences Hospital & Research Centre, Bengaluru, Deccan Medical College, Hyderabad, dan Khadija National Hospital, New Delhi. Menurut mereka, dinamisnya aliran populasi haji yang terus meningkat memungkinkan kenaikan resistensi pneumokokus di antara jamaah. Komite Haji Mumbai juga ikut dalam penelitian.

Hasil studi dipublikasikan dalam jurnal terbaru Travel Medicine and Infectious Disease. Tim peneliti diantaranya F Ganaie, G Nagaraj, V Govindan, R Basha, M Hussain, N Ashraf, S Ahmed dan KL Ravi Kumar.

Sebagai bagian dari studi, 3.228 olesan dari hidung dan mulut dikumpulkan dari 807 jamaah sebelum dan setelah pulang haji. Hasilnya ada peningkatan pembawaan bakteri pneumokokus pada jamaah setelah haji.

Dari awalnya 19 persen sebelum haji menjadi 21,8 persen setelah haji. Strain bakteri ditemukan pada 79 jamaah. Peningkatan resistensi terhadap obat untuk tetracycline menjadi 51 persen dari 29 persen, erythromycin dari 26 persen menjadi 46 persen, dan levofloxacin dari enam persen menjadi 17 persen. Para peneliti memperingatkan potensi penyebarannya di seluruh wilayah jika tidak ada pengawasan.

Redaktur : Ani Nursalikah
Reporter : Lida Puspaningtyas