Sajadah Kuning Nenek Toer
Senin , 17 July 2017, 08:36 WIB

Masjidil Haram tahun 1925. Terlihat masih ada bangunan sumur Zamzam dan sosok Masjidl Haram yang masih sangat sederhana.

Dan sekitar dua bulan ke depan, yakni ketika sang kemenakan pulang haji, dia segera datang menemuinya. Kini wajah Nenek Toer makin berseri ketika melihat kemenakannya sudah 'resmi' menjadi haji. Dia bangga bukan kepalang ketika melihat peci putih bertengger di atas kepalanya.

''Tapi ngomong-ngomong mana pesanan saya,'' katanya. Sang kemenakan hanya tersenyum menjawabnya.''Beres..Ini sudah saya siapkan,'' sahut sang kemenakan sembari menaruh sebuah bungkusan di depannya.

Segera saja Nenek Toer membuka bungkusan itu. Di depannya terhampar sebuah sajadah berwarna kuning kemasan yang beraroma harum.''Ini pasti harganya lebih mahal dari 30 real. Soalnya di Arab kan tak ada inflasi,'' katanya.

Sang kemenakan hanya bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Dia paham apa yang ada di benak sang nenek mengenai Makkah dan komplkes Masjidil Haram sepuluh tahun lalu ketika dia naik haji, pasti sudah banyak berubah. Mall di Zamzam Tower baru saja digunakan sebagai pengalihan tempat belanja yang oleh orang Indonesia disebut sebaai Pasar Seng. Bukan hanya itu, bahu jalan serta perbukitan yang dahulu masih menghiasi area sekitar Masjidil Haram juga belum dibongkar. Area temat hotel 'kelas murah' yang dahulu berjejalan di sekitar ruas jalan menuju Misfalah juga sudah rata dengan tanah dan lahannya kini menjadi sebuah area halaman Masjidil Haram.

''Nek kios Musseumnya masih ada lho,'' kata sang keponakan.
''Oh begitu..tapi di Pasar Mall ada yang jualan akik tidak. Soalnya dulu kakekmu beli akik di sana,'' tanya dia.

Kemenakannya segera menjawabnya: ''Ya jelas ada yang jualan akik. Tapi harganya sekarang lebih mahal dari pada akik yang dijual di Indonesia.''

Nenek Toer mengangguk-angguk. ''Kalau begitu Masjidil Haram sudah berubah ya..'' jawabnya lirih. Setelah itu, sajadah yang dibelikan kemenakannya dari 'Pasar Mall' Masjidil Haram segera diraihnya.

Tak sadar matanya kemudian berkaca-kaca. Masjidil Haram, keriuhan ibadah haji, dan suasana khusyuk di Masjid Nabawi berkelebat-lebat kembali di pelupk matanya. Sajadah berwarna kuning keemasan seharga 30 real kini mengngatkannya kembali betapa pergi haji adalah hal yang sangat mengesankan.





Redaktur : Muhammad Subarkah