Kisah Keluarga Zamazima Pengatur Pembagian Air Zamzam
Selasa , 01 Agustus 2017, 08:02 WIB

dok.Republika
Ilustrasi Minum Air Zamzam

Para jamaah haji yang mengunjungi Arab Saudi biasanya disambut oleh para pemuda Makkah yang mendistribusikan air zamzam kepada mereka.

Memang kebiasaan menawarkan air zamzam sebenarnya adalah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari 14 abad. Bukan hanya itu, kebiasaan ini juga sudah berlangsung semenjak era pra-Islam. Air menjadi barang yang dipakai tanda penyambutan kehormatan dan ini dilakukan karena air yang didistribusikan di wilayah gurun pasir juga merupakan barang yang langka.

Pada zaman dulu, tugas membagikan air zamzam itu hanya dilakukan oleh keluarga kakek buyut Muhammad Muthalib. Setelah menaklukkan Makkah, maka Rasullah SAW meminta pamannya Abbas bin Abdul Muttalib untuk menjalankan tugas membagikan air zamzam tersebut. Setelah itu, tugas ini kemudian ditugaskan secara turun-temurun kepada keluarga Al-Zubayr.

Namun, seiring meningkatnya jumlah jamaah haji, maka di kemudian hari keluarga lain juga diizinkan untuk melakukan pekerjaan mendistribusikan air zamzam. Menurut kepercayaan Islam, Zamzam adalah sumber air yang dihasilkan secara ajaib dari Tuhan, yang dimulai ribuan tahun yang lalu.

Ketua Kantor Serikat Zamazemah, Abdulhadi Abduljalil Zamzami, mengatakan bahwa sebelum lemari es air menjadi barang umum di Masjid Agung Makkah, keluarga Zamazima dikerahkan ke sana untuk mendistribusikan air.

“Saat itu setiap keluarga memiliki tempat sendiri di mana mereka memasukkan labu tembikar dan pot tembaga untuk mendistribusikan air kepada pengunjung dan peziarah," katanya kepada Al-Arabiya.net. Dia  menambahkan bahwa peziarah juga berkoordinasi dengan keluarga-keluarga ini untuk diberi air di tempat tinggal mereka. .

Menurut Abdulhadi, keluarga Zamazima pertama-tama memindahkan air ke labu tembikar dan kemudian ke botol yang diberi aroma dengan damar wangi. Setelah itu, keluarga-keluarga ini, yang mengenakan pakaian tradisional, membagikan air kepada peziarah di pot tembaga.

“Tradisi pembagian seperti ini berlangsung selama bertahun-tahun, sampai tahun 1982 Masehi. Saat itu sebuah dekrit kerajaan dikeluarkan dengan menetapkan bahwa menyediakan air untuk peziarah di dalam Masjid Al Haram Makkah harus menjadi tugas yang dilakukan oleh Presidensi Umum untuk urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabi,’’ ujarnya.

Setelah dekrit itu, semua keluarga Zamazima kemudian bergabung di bawah Kantor Serikat Zamazemah yang ditugaskan untuk membagikan air Zamzam kepada peziarah dan membawanya ke tempat tinggal mereka setiap hari.

Menurut Abdul Hadi, pada masa sekarang kantor Serikat Zamazemah telah mendistribusikan air ke lebih dari 2 juta peziarah setahun.

Redaktur : Muhammad Subarkah