Kiswah, Lambang Kekhalifahan dari Mesir Hingga Mataram
Kamis , 10 August 2017, 08:06 WIB

saudigazette.com
Kiswah Ka'bah mulai Selasa kemarin (8/9) disingkap ke atas. Pihak pengelola Masjidil Haram menyatakan kain kiswah disingkap untuk menghindari aksi perusakan kiswah.

Selasa lalu (8/9), bagian bawah kain penutup Ka'bah digulung naik ke atas sekitar tiga meter. Bagian yang diangkat ditutupi dengan kain katun putih sekitar dua meter di keempat sisinya.

Pihak Kepresidenan Umum Urusan Dua Masjid Suci menyatakan mengambil tindakan ini sebagai prosedur tahunan untuk memastikan bahwa kiswah Ka'bah terlindung dari kerusakan oleh orang-orang yang melakukan tawaf selama musim haji.
 Untuk itu mereka memutuskan bila kain kiswah digulung lebih cepat dari pada waktu biasanya.

Memang bila dicermati betul, bangunan Ka'bah memang terbuat dari tumpukan batu. Namun, dalam kesehariannya bangunan itu tampak anggun karena ditutupi kain hitam bertuliskan tenun kaligrafi berwarna kuning keemasan.

Adanya fakta ini, maka tak aneh bila banyak di antara para peziarah ke tanah suci tidak tahu apa fungsi kain selubung Ka'bah  (kiswah) dan di mana kain tersebut dibuat? Dan, ketidaktahuan ini masih terasa meluas dikalangan para jamaah haji yang kini tengah bersiap atau dalam perjalanan menuju tanah suci.

Kain kiswah pada zaman dahulu --semasa Kerajaan Arab Saudi berada di bawah penguasaan Kekahifahan Turki -- kain sutra hitam dan tulisan kaligrafi yang ditenun dengan benang emas, ternyata dibuat wilayah di Mesir. Sebelumnya lagi kiswaah yang konon sudah dibuat sejak zaman nabi Ismail, pernah dibikin di Yaman.

Pada masa kekhalifahan Turki, Setiap tahun, sekitar sebulan menjelang tibanya musim haji, kain Kiswah ini dibawa sekelompok petugas kerajaan Itu dari tempat pembuatannya di Kairo menuju Makkah dengan melintasi  kota tua Damaskus. Dari kota tersebut, kiswah dibawa ke Makkah bersama para rombongan pejiarah haji. Pada tahun 1326 saat Ibnu Batutta pergi berhaji dari arah Damaskus, kiswah berada di antara rombongan besar peziarah haji yang jumlahnya kala itu sudah mencapai 20 ribu orang.
                                          
Seperti dimaklumi, jarak Damaskus-Makkah kira-kira terentang 820 mil. Jarak sejauh itu ditempuh para peziarah dengan naik onta  antara  45-50 hari. Di zaman akhir Kekhalifahan Ottoman Turki (tahun 1900-an) rute tersebut kemudian dibangunkan rel kereta api yang 'mengular' sampai ke tanah Hijaz. Namun jalur kereta api  ini sekarang sudah tak ada lagi. Menjelang Perang Dunia II  rel  dibongkar dan kemudian diganti dengan jalur jalan kendaraan biasa. Bila naik bus, jalur Danaskus-Makkah sekarang ditempuh waktu sekitar 24 jam. Sedangkan jalur Turki-Makkah di tempuh sekitar 40 jam.

Redaktur : Muhammad Subarkah