Mengenang 115 Tahun Sang Proklamator
Bung Hatta Naik Haji, Kembang 'Alfatihah': Teladan yang Hilang!
Sabtu , 12 Agustus 2017, 08:57 WIB

Mohammad Hatta dan Rahmi menikah di Megamendung, Bogor, pada 18 November 1945.

Sebagai cucu ulama besar, Hatta jelas paham mengenai apa yang dimaksud dengan istilah 'wara' dan 'zuhud' itu. Dua istilah ini sangat dikenal di dunia sufi atau tarekat serta dipakai untuk menyebut sebuah pribadi insan yang saleh secara pribadi dan soal, tidak tergila-gila gemerlap dunia, dan hidup sederhana.

Hal ini biasanya merujuk kepada kehidupan Nabi Muhammad SAW yang jauh dari suasana gemerlap. Rumah nabi di Madinah hanya berukuran 3 x 4 (seluas kamar kontrakan di Jakarta), hanya punya dua pasang pakaian, tidur dengan dipan pelepah kurma, kerap tak punya makanan atau meneruskan berpuasa setelah sebelumnya berbuka dengan tiga butir kurma dan meminum air putih, tak mengenakan perhiasan emas dan sutra (Rasul hanya memakai cincin besi dan berpakaian dari kain kasar), serta hanya memakan gandum olahan yang juga kasar.

Nah, dalam kehidupan nyata, kebiasaan pengikut tarekat seperti itu dijadikan acuan oleh Bung Hatta. Hingga wafat, tak ada skandal yang pernah dia lakukan. Tak ada uang negara yang dipakai tanpa hak. Bahkan, saking hati-hatinya, Hatta kerap harus menabung bila ingin membeli sesuatu, seperti misalnya keinginannya membeli sepatu Bally yang saat itu merupakan sepatu favorit dan berharga mahal.

Bila mengunjungi rumahnya yang berada di Jl Diponegoro (di seberang kantor DPP PPP atau di samping kediaman Kedubes Palestina) tak ada hal yang mewah yang akan dilihat. Dekorasi rumahnya sederhana. Yang ada hanya perabot biasa dan lemari berisi buku. Halamannya pun sempit dan tak ada taman atau pendopo yang luas atau bangunan garasi yang bisa dimuati banyak mobil.

Bahkan, beberapa tahun silam ada kehebohan yang muncul. Sang menantu Bung Hatta, Prof DR Sri Edi Swasono, sempat menyatakan ada tangan jahil yang menukar lukisan pemandangan yang ada di dinding "rumah tua" itu.

Menurut Edi, ada orang yang diam-diam menukar lukisan pemandangan karya pelukis kondang Basuki Abdullah. Indikasinya, setelah diperhatikan dengan saksama tiba-tiba terasa ukuran lukisan tersebut mengecil. Maka ia pun mencurigai ada pihak yang jahil pada karya lukis itu.

Kesederhanaan ini pun kemudian bersesuaian dengan cerita mengenai sikap Bung Hatta yang memilih pergi haji dengan cara membayar sendiri ongkosnya dari royalti penjualan buku karangannya.

Padahal, saat itu status Hatta adalah wakil presiden. Bahkan, Presiden Sukarno pun sudah menyediakan pesawat khusus serta membeberkan semua fasilitas kendaraan yang diperlukan Bung Hatta untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Namun, tawaran Presiden Sukarno pun dia tolak.

Menurut dia, urusan naik haji bukanlah urusan seorang pejabat negara dengan Allah, melainkan itu urusan seorang insan manusia biasa yang pergi ke Tanah Suci.

Maka, bila dirinya menunaikan ibadah haji ke Makkah, itu merupakan kepergian ibadah sebagai seorang Mohammad Hatta pribadi, bukan sebagai seorang wakil presiden.

Alhasil, apakah masih ada pejabat negara seperti itu sekarang? Jangankan bisa sedikit meniru sosok kesederhanaan hidup Nabi Muhammad SAW, mampu mengikuti jejak perilaku Bung Hatta saja kini merupakan hal yang langka.

Dalam soal urusan naik haji, misalnya, sudah dimafhumi bila banyak cerita yang beredar bahwa pejabat negara acap kali meminta jatah kursi kuota haji ke menteri agama. Di forum pengadilan kasus korupsi haji di KPK, misalnya, soal bagi-bagi kursi haji untuk pejabat negara di periode pemerintahan sebelumnya sudah banyak yang menyebut.

Selain itu, juga bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak pejabat negara masa kini yang hidupnya bergelimang dalam kemewahan, kaya raya layaknya "raja-raja kecil" di abad pertengahan Eropa. Rumahnya seperti istana, mobilnya berjibun, dana deposito serta uang yang tersimpan di rekening banknya menumpuk bahkan kerap disebut meluber sampai ke luar negeri.

Apakah zaman sudah berubah dan apakah akan datang Hatta-Hatta baru di negeri tercinta ini? Jawabnya: ya entahlah!

Namun, yang pasti, almarhum Bung Hatta telah membuktikan bahwa sosok orang saleh bukan hanya ada di dalam cerita komik. Dia benar-benar ada di kehidupan yang nyata.

 



Redaktur : Muhammad Subarkah