Jurnalis Peliput Haji Insyaflah, Tuluslah!
Selasa , 03 April 2018, 05:05 WIB

Suasana di tenda Arafah.

                                                                         *****

Jadi, segala tetek bengek haji layanan petugas haji sudah mulai dilakukan jauh-jauh hari sebelum Idul Adha tiba. Di kalangan media masa sudah mulai muncul kabar jurnalis mana yang akan diminta atau ditujuk meliput. Ini sangat menarik perhatian, karena siapa yang akan ditunjuk dan lolos seleksi akan tinggal di Arab Saudi –Jeddah, Makkah, Madinah--, lebih dari dua bulan. Jumlah waktu ini jauh lebih panjang dari pada lamanya tinggal para haji di tanah suci yang sekitar 42 hari saja.

Dan memang adanya jurnalis peliput haji sudah berlangsung sangat lama, yakni sekitar tahun 1980-an. Berbagai laporan mereka tulis. Namun apakah laporan mereka ada jejaknya dalam peningkatan kesadaran akan berhaji? Semua orang bisa punya pendapat berbeda. Tapi kesan yang ada sekarang adalah liputan biasa atau laporan ‘de Javu’ alias basi bin mengulang saja.

photo
Jamaah haji Rusia.

Sebagai orang yang mengurus berita haji lebih dari 10 tahun, maka kecenderungan berita ‘as usual’ jelas tampak terbuka. Media masa, baik elektronik maupun, cetak terlihat terjebak dalam cara pandang  'menyempit' bahwa momentum ibadah haji merupakan perayaan festival --meminjam istilah Snuck Hurgronje: Haji sebagi 'Festival Makkah'-- tahunan yang akan terjadi sampai dunia ini kiamat. Alhasil, tak ada kebaruan dalam laporan. Produksi berita hanya berputar-putar bikin ‘mual ulu hati’ karena dari soal itu ke itu saja.

Lihat saja laporan para petugas peliput haji yang setiap tahun silih berganti datang ke tanah suci. Kita pun maklum bila sebagaian anggota Komisi Pengawas Haji (KPHI) ikut resah dengan mengkritik bahwa tulisan atau laporan jurnalistik selama musim haji hanya 'berita lempang' alias keras saja. Berita ini jelas tanpa nuansa. Mereka mengatakan, padahal masih banyak hal yang harus disorot dalam soal haji, mulai dari sisi sosial, sejarah, ekonomi, hukum, hukum/hubungan international, filsafat, budaya, hingga masalah kebijakan politik yang jadi latar belakangnya.

”Tulisan 'faeture' tak ada atau minim. Semua liputan hampir-hampir hanya 'stright news'. Ada kesan terjebak soal berita haji hanya mengenai orang wukuf dan berkumpul di Makkah saja,’’ kata seorang anggota KPHI.

                                                          

Redaktur : Muhammad Subarkah