Ketika Orang Betawi Pulang Haji
Ahad , 25 September 2016, 15:33 WIB

ist
ilustrasi haji tempo dulu

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki, Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap daerah memiliki kekhasan yang sudah menjadi tradisi dalam menyambut kepulangan jamaah haji ke kampung halamannya, termasuk di Betawi. Orang Betawi mengucapkan kata "haji" dengan "aji". Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, menceritakan dengan sangat baik tentang tradisi di Betawi dalam menyambut orang Betawi yang pulang ke kampung halamannya setelah melaksanakan ibadah haji, saat pergi dan pulang haji masih menggunakan kapal laut.  Sampai saat ini, tradisi ini masih ada dan dijalankan di beberapa tempat.

Menurut Yahya Andi Saputra dan dari sumber lainnya yang saya kutip, seminggu setelah Lebaran Aji, suasana kampung akan kembali semarak. Warga kampung, terutama keluarga yang familinya menunaikan ibadah haji, akan sibuk mempersiapkan kepulangan jamaah haji. Di ruang tengah, ruang tamu, sudah digelar tikar atau karpet dan disiapkan kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi, terutama sayur asem, pecak ikan gurami, dan makanan segar lainnya yang tidak dijumpai di Tanah Suci.

Sementara rumah ditata, sebagian keluarga pergi menjemput keluarganya yang tiba dari Tanah Suci ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Memang, kepulangan jamaah haji sangat ditunggu-tunggu. Ketika jamaah haji sampai di rumah, akan dipasang dan dibakarkan petasan. Pembakaran petasan ini sebagai tanda kepada warga kampung bahwa bapak dan atau ibu haji sudah tiba di rumahnya dengan selamat dan sehat walafiat.

Selain petasan, juga dibacakan shalawat, orang Betawi mengucapkannya salawatan. Disebabkan suara petasan yang memekakkan telinga dan terdengar seantero kampung, tetangga berbondong-bondong mendatangi si pemilik rumah yang membakar petasan untuk mengucapkan selamat. Selain mengucapkan selamat, para tetangga ini minta didoakan karena mereka punya keyakinan bahwa orang yang pulang dari ibadah haji doanya cepat terkabul.

Mereka juga mengharapkan oleh-oleh yang dibawa dari Tanah Suci. Oleh-oleh yang biasanya tidak pernah luput, seperti air zamzam, siwak, pacar, sipat mata, kurma, tasbih, sajadah, kacang arab, kismis, dan rumput fatimah.

Bagi jamaah haji yang mampu dan memiliki dana lebih, mereka akan mengadakan pengajian atau acara syukuran dengan memanggil ulama atau ustaz untuk memberikan tausiyah dan mengundang kerabat dan para tetangganya. Selain itu, tuan rumah atau yang baru pulang haji diberian kesempatan berbicara untuk menceritakan pengalamannya ketika beribadah haji dari mulai niat hingga harapannya setelah menunaikan ibadah haji. Dan, yang terpenting lagi, ia bisa memberikan motivasi kepada para tamu undangan agar menyegerakan niat dan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji.

Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah dua minggu. Dan, bagi orang Betawi, jamaah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya santai atau kongko-kongko sebelum 40 hari. Orang Betawi yang pulang haji dipanggil dengan Pak Haji atau Bu Haji. Disebut Bang Haji jika usianya masih muda. Penyebutan ini merupakan kehormatan karena gelar haji bagi masyarakat Betawi menempati posisi yang terhormat karena  yang bergelar haji ini menjadi bagian dari elite Betawi.

Walau orang Betawi yang bergelar haji bukanlah orang yang ahli dalam bidang agama, seperti guru, mualim, atau ustaz, perkataannya didengar dan sikapnya menjadi panutan. Bahkan, tidak sedikit yang meminta nasihat kepada para haji Betawi ini layaknya seperti meminta nasihat kepada alim ulama. 

Disebabkan umumnya orang Betawi yang pulang haji, keislaman mereka bukan sekadar di KTP, gelar haji bukanlah sekadar gelar panggilan. Orang-orang Betawi yang pulang haji, mereka akan semakin religius: rajin shalat ke masjid dan mushala, bahkan rajin mengikuti ceramah, pengajian, bahkan halaqah-halaqah. Bahkan, sebagian dari haji Betawi ini juga mampu membaca kitab kuning serta menjadi murid setia guru, mualim, dan ustaz.

Haji Betawi juga juga dikenal dermawan dan berkorban; sering mengadakan santunan dan bagi-bagi berkat karena gemar mengadakan syukuran, maulidan, dan tahlilan serta mau mengorbankan harta mereka untuk kepentingan umum, seperti mewakafkan tanah untuk masjid dan madrasah. Sebagian dari mereka juga menjadi sponsor tetap acara-acara yang digelar oleh ulama dan ustaz yang menjadi guru mereka.

Orang Betawi memahami dan memaknai haji sebagai ibadah yang menyempurnakan keislaman mereka. Karena keislaman mereka sudah sempurna, harus diiringi dengan akhlak yang juga harus lebih baik daripada sebelum berhaji. Terlebih, perjuangan untuk bisa berhaji tidaklah mudah, biayanya juga mahal. Tabungan terkuras, tanah atau kontrakan harus juga dijual. Sayang, jika setelah haji, kelakukan tidak lebih baik dari sebelum haji.

Akhir kalam, ciri-ciri haji mabrur itu kurang lebih seperti orang Betawi yang pulang haji di atas: lebih religius, makin dermawan, dan berkorban serta akhlaknya semakin baik. Karena, kata mabrur diambil dari akar kata birran atau al-birru yang menurut Kamus Al-Munawwir dapat diartikan sebagai taat berbakti, bersikap baik-sopan, benar atau tidak berdusta, benar untuk dilaksanakan sesuai dengan sumpahnya, menerima, diterima, banyak berbuat kebajikan. Menurut al-Fairuzi, al-birru dapat juga berarti hubungan, berupaya dalam kebaikan.

Sedangkan, menurut Allah SWT di dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 177, al-birru itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat, melainkan sesungguhnya al-birru itu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Semoga jamaah haji Indonesia yang pulang ke kampung halamannya menjadi haji yang mabrur, haji yang mampu menjadi panutan karena kereligiusannya, kedermawanannya, pengorbanannya, dan akhlak yang baik seperti umumnya para haji Betawi.

Redaktur : Agung Sasongko