Penggunaan Pakaian Ihram pada Masa Kesultanan Utsmaniyah
Kamis , 26 Januari 2017, 15:13 WIB

Republika/Yogi Ardhi
Jamaah haji/umrah menggunakan pakaian ihram saat beribadah (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, Dalam rangkaian ibadah haji, ada saat di mana para jamaah mengganti busana mereka dengan pakaian ihram. Tepatnya, dalam perjalanan singkat mereka dari Jeddah ke Makkah.

Jamaah berhenti sejenak untuk mengubah pakaian mereka dengan kain ihram. Pakaian ini tidak berubah sejak zaman Rasulullah SAW. Pakaian ihram untuk laki-laki terdiri dari dua potong kain berwarna putih. Satu kain untuk menutupi pinggang hingga lutut dan satu kain lagi dikenakan di bahu. Alas kaki yang dipakai yakni sandal terbuka di bagian punggung kaki. Tidak ada fitur spesial bagi pakaian jamaah perempuan.

Wisatawan asal Inggris, Richard Burton, yang melihat jamaah haji perempuan di pertengahan abad 19 menyatakan, bahwa penutup wajah tidak harus menyentuh wajah. Oleh karena itu, jamaah perempuan mengenakan penutup muka yang terbuat dari daun kelapa. Namun, saat ini, jamaah haji wanita tidak menutupi mereka dengan itu.

Ahli agama percaya bahwa pakaian ihram melambangkan kesetaraan semua orang di hadapan Allah SWT. Proses haji diatur oleh seperangkat aturan yang menekankan status khusus dari Makkah.

Menurut banyak ahli agama, aturan ini, mengungkap pemisahan para jamaah dari kekhawatiran duniawi, sekaligus dedikasi mereka kepada Allah SWT. Aturan yang paling penting adalah larangan membunuh makhluk hidup apapun, terlepas dari ritual kurban di Hari Raya Idul Adha.

Jamaah diperbolehan mengenakan wewangian. Jamaah laki-laki pun dibiarkan memelihara jenggot. Jamaah harus mandi sebelum mengenakan ihram. Pada akhir proses haji, barulah para jamaah diperbolehkan memotong rambut, kuku, dan jenggot mereka.

Dalam buku berjudul Pilgrims Sultans The Hajj Under the Ottomans karya Suraiya Faroqhi disebutkan, pada masa Kesultanan Utsmaniyah, Ibnu Djubayr dan teman-temannya mengenakan ihram di tempat yang telah ditentukan antara Jeddah dan Makkah. Jamaah yang datang dari arah lain juga mengetahui persis di mana mereka berubah mengubah busananya mejadi pakaian ihram.

Pada abad ke-17, wisatawan Ewliya Celebi mendekati Makkah dari arah Madinah. Dia menyatakan, saat itu, jamaah mengenakan ihram di sebuah tempat bernama Bi'r Ali, tidak terlalu jauh dari Madinah. Sekarang ini, proses penggantian pakaian ihram dilakukan di Dhu al-Hulayfa, yang kadang-kadang disebut Abar 'Ali.

Jamaah yang hendak menghindari ketidaknyamanan perjalanan mereka melalui padang pasir yang mungkin identik dengan Ewliya Celebi ini Bi'r ‘Ali. Peziarah yang ingin menghindari ketidaknyamanan perjalanan melalui padang pasir hanya mengenakan sebuah ihram bisa memakai pakaian biasa hingga mereka sampai di Makam al Umra.

Di tempat ini, ada sebuah kolam yang memiliki roda air. Di sekitarnya terdapat kamar-kamar di mana jamaah bisa menyegarkan diri. Kompleks ini memang masih agak baru, tepatnya didirikan oleh Gubernur Mesir di 1662-3, kurang lebih sepuluh tahun sebelum kunjungan Ewliya ini. Jamaah yang tiba dari arah selatan mengubah pakaian ihram mereka ketika pertama kali melihat Gunung Yalamlam yang teretak sekitar 54 kilometer di sebelah selatan Makkah.


Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Qommarria Rostanti