1970, Rumah Nabi dan Sahabat Masih Kokoh Berdiri di Makkah
Ahad , 20 August 2017, 11:07 WIB

Pemandangan puncak gunung Jabal Nur dengan latar belakang kota Makkah, Ahad (21/10). (Hassan Ammar/AP)

IHRAM.CO.ID, Mohammed Rashid, seorang warga Emirat adalah satu dari 4.500 jamaah haji dari UAE pada 1975. Saat itu cuaca dingin selama haji dengan jumlah jamaah satu juta setengah orang. Setiap tahun Arab Saudi menghabiskan jutaan uang untuk ekspansi dengan jumlah jamaah yang meningkat.

Hotel bintang lima di sekitar Masjidil Haram, toko-toko dan komersialisasi Makkah telah mengubah kota yang begitu sederhana kini menjadi kota modern yang ramai dan mahal. "Dulu, Anda biasa melihat keledai, kuda, dan Anda bisa berjalan ke situs-situs bersejarah Islam seperti rumah-rumah sahabat dan istri Nabi Muhammad, dan bahkan rumahnya sendiri, dan kemudian Anda bisa berkeliaran di sepanjang pegunungan," kata Rashid.

Menurutnya, tempat itu begitu sederhana dan jamaah benar-benar bisa bertemu dan tinggal bersama keluarga lokal di Makkah. Selama bertahun-tahun, pemerintah Saudi telah menghancurkan banyak situs Islam dan bersejarah, termasuk rumah Nabi dan rekan-rekannya serta istrinya.

Menurut kepercayaan mereka, mempertahankan monumen atau benda bersejarah itu dapat menimbulkan syirik-politeisme. Selama beberapa dasawarsa telah terjadi perubahan penting untuk membantu peziarah, seperti menyediakan air bersih. Sebelumnya, truk air akan didistribusikan.

Dulu tidak ada tenaga medis. Sekarang setiap negara harus mengirimkan juga delegasi medis sendiri. Meski Saudi tetap menyediakan fasilitas ini seperti dokter dan perawat. Penyakit tetap menjadi perhatian utama.

Pada masa lalu demam kuning dan malaria sering terjadi, sementara Flu Babi dan Mers Coronavirus baru sekarang mengambil alih 'panggung'. Sejak saat itu, pemeritah Saudi sudah menetapkan vaksin wajib seperti vaksin Meningococcal (Quadruple) terhadap meningitis, vaksin influenza musiman dan vaksin pneumokokus.

Redaktur : Karta Raharja Ucu