Taif, Kota Pertemuan Dua Rute Haji Asal Irak
Selasa , 29 August 2017, 08:45 WIB

saudigazette.com
Situs stasiun kafilah haji, Zubaida.

Kota peristirahatan Taif selama ini telah menjadi titik temu dua rute haji bersejarah yang muncul dari Irak dan berakhir di Makkah. Umat ​​Muslim menggunakan rute ini semenjak 1.277 tahun yang lalu sejak dari era Khalifah sampai masa Raja Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi.

Rute haji in disebut i rute Zubaida yang membentang sepanjang 1.500 km dimulai dari kota Kufah di Irak. Sementara rute yang satunya di mulai dari kota Basara di Irak yang panjangnya mencapai 1.200 km.

Kedua rute tersebut berjalan paralel menusuri jazirah Arab dari utara dan bertemu di Um Kharman, sebuah tempat yang dikenal luas sebagai wilayah Awtas, yang terletak di kota Aqeeq yang letaknya di utara Taif. Awsas juga dianggap sebagai pintu gerbang timur Makkah.

Penguasa Muslim kala itu telah mendirikan banyak stasiun atau pemberhentian bagi kalifah haji, di sepanjang dua rute haji ini terutama bagi para peziarah untuk beristirahat. Mereka mendirikan kolam dan menyediakan air minum.

Mereka juga memperbaiki sarana jalur jalan di antara berbagai stasiun tersebut. Beberapa stasiun pemberhentian jamaah haji ini didirikan oleh Khalifah Al-Mahdi Al-Abbasi di tahun 161 H. Rute Zubaida memiliki 27 stasiun. Adanya jalur ini telah diteliti kembali oleh sejarawan Saudi Arabia, Jalaluddin Al-Suyouti dan Dr Saad Al-Rasyid.

Menurut kedua sejarawan ini, melalui studi arkeologi telah menunjukkan bahwa bangunan yang dibangun di sepanjang dua rute haji itu mengikuti desain arsitektur khusus Islam. Bangunan ini dibedakan untuk dinding kuat mereka dan mencerminkan kecemerlangan arsitektur umat Islam pada masa itu. Kolam dibuat dalam bentuk persegi, persegi panjang dan melingkar. Kanal dibangun untuk membawa air dari lembah ke kolam.

“Di kemudian hari, Raja Abdul Aziz sangat ingin mengurus rute haji dengan menyediakan fasilitas dan layanan yang dibutuhkan oleh para tamu Allah tersebut. Anak-anaknya termasuk Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khaled, Raja Fahd, Raja Abdullah dan Raja Salman melanjutkan misi ini. Para penguasa dan orang-orang Saudi telah mempertimbangkan ibadah haji dan umrah sebagai penghormatan yang besar,’’ kata sejarawan itu, seperti dilansir saudigazette.com.

Harian Al-Madina Arabic sempat melakukan tur dua rute Haji bersejarah yang melewati pegunungan dan lembah tersebut. Koresponden harian Khaled Al-Maqati mengunjungi kolam Zubaida dan Kharaba serta titik temu dari dua rute di Awtas di mana kolam lain bernama Bareeka berada. Dat Al-Erq meeqat, dimana peziarah mengenakan busana ihram, terletak di sini.

"Kami telah melihat sejumlah situs sejarah dan barang antik di sepanjang dua rute haji termasuk rumah istirahat, sumur, dan kolam. Pihak berwenang telah melindungi situs-situs ini untuk melestarikan keindahan dan desain mereka, "kata Al-Maqati.

Tim harian tersebut bertemu dengan Maeedh Al-Malki, petugas administrasi stasiun kafilah haji yang ada Ushaira, sebuah wilayah sekiar 75 km utara Taif, serta Ayesh Al-Maqati. Kedatangan mereka untuk melihat langsung peningalan sejarah yang berbicara tentang pentingnya tempat-tempat bersejarah ini.

"Kami bersama-sama mengunjungi stasiun Wajra, dekat dengan kolam Kharaba, tempat haji biasa beristirahat saat pergi dan kembali dari Makkah," kata Al-Maqati.

Dia menjelaskan bahwa rute Haji Basara itu melewati wilayah timur laut Saudi Arabia, termasuk Wadi Al-Batin, yang melintasi padang pasir seperti Dahnaa,  sebelum mencapai kota Qassim. Setelah itu jalannya sejajar dengan rute Zubaida sampai mereka bertemu di Awtas, sekitar 16 km dari Dat Al-Erq Meeqat, yang berjarak sekitar 92 km utara Makkah.

Dr Abdullah Al-Shanbari dari Universitas Umm Al-Qura menekankan pentingnya benda-benda antik dan situs sejarah dalam kehidupan bangsa-bangsa karena menghubungkan orang-orang dengan masa lalu mereka.

"Pemerintah Saudi telah memahami nilai barang antik ini dan mengambil tindakan untuk melestarikannya," katanya.

Redaktur : Muhammad Subarkah