Perjalanan Jamaah Haji India Era 1860
Sabtu , 28 October 2017, 21:37 WIB

saudigazette.com
suasana Makkah di masa puncak musim haji tempo dulu

IHRAM.CO.ID, Melakukan ibadah haji sekali dalam seumur hidup merupakan impian bagi orang muslim. Tidak adanya kereta api apalagi pesawat terbang adalah sebuah rintangan dalam melakukan perjalanan. Mungkin kita tidak percaya akan percaya bahwa hal tersebut benar-benar terjadi.

Dikutip dari Muslimink, bahwa perjalanan haji jamaah India di era 1860-an selama pemerintahan Inggris sangatlah sulit. Kebanyakan jamaah telah mempersiapkan diri, baik secara finansial maupun mental dalam melaukan perjalanan ini selama bertahun-tahu atau berpuluh-puluh tahun. Selain itu biaya yang dikeluarkan oleh calon jamaah haji dari Asia Selatan sangatlah besar bahkan setelah maraknya penggunaan kapal uap.

Tak hanya itu, adanya kesulitan di sepanjang perjalanan. Kesulitan ini dapat dibayangkan ketika calon jamaah haji berangkat dari suatu tempat di India Utara dan mengalami semua lika-liku perjalanannya.

Pada awalnya calon jamaah haji kala itu diminta melakukan perjalanan ke Bombay. Pada abad kesembilan belas perjalanan ini menjadi lebih mudah seiring dengan kedatangan perkeretaapian. Namun sayangnya hanya kota-kota yang terhubung dengan jalur kereta. Sehingga bagi calon jamaah haji yang yang tinggal di desa dipaksa untuk menempuh perjalanan panjang dengan gerobak sapi dan feri.

Begitu sampai di kota Bombay, terdapat pelabuhan satu-satunya di India dan mereka diwajibkan untuk mendapatkan tiket melalui agen pelayaran atau pialang. Dimana pialang dan agen memiliki reputasi sebagai penipu atau preman.

Saat berhasil melewati rintangan-rintangan tersebut mereka harus menunggu gilirannya untuk berangkat menggunakan kapal. Waktu keberangkatan yang dicetak pada tiket tidaklah ada artinya. Sebab tidak ada kapal yang meninggalkan Bombaby dengan tepat waktu atau selalu mengalami penundaan setidaknya satu atau dua kali. Dalam kasus tertentu, mereka terpaksa menunggu lebih lama dari sebulan. Perusahaan perkapalan dibidang haji ini sama sekali tidak terkendali. Sebab kapal akan menunggu selama mungkin sampai mereka mendapatkan jumlah penumpang sebanyak mungkin.

Oleh sebab itu, banyak calon jamaah haji yang mengamuk di geladak, karena tidak cukupnya ruang bagi mereka. Sebelum keberangkatan, mereka juga diharuskan mengunjungi kamp medis di pelabuhan. Diperiksa secara ketat oleh dokter sementara barang bawaannya dikukus dan didesinfeksi. Mereka  juga mungkin akan mengajukan paspor peziarah di pelabuhan, meski ini tidak diwajibkan. Begitu kepergian kapal diumumkan, mereka harus menemukan jalannya dengan berdesak-desakan.

Kapal tersebut kemudian akan segera melaju dan berhenti di Karachi untuk menjemput lebih banyak penumpang serta memuat atau membongkar muatan batubara atau barang lainnya di Aden. Hingga akhirnya menjatuhkan jangkar di pulau Kamaran.

Calon jamaah haji yang sudah kelelahan karena hampir melakukan perjalanan selama sebulan, dipaksa mempersiapkan diri untuk di karantina. Barang bawaan mereka akan dilemparkan ke dalam sampan dan didayung ke pulau tersebut untuk didesinfeksi sekali lagi. Setelah itu dia akan dipindahkan ke salah satu gubuk karantina. Hal ini dilakukan karena sebagian besar negara-negara

Eropa menyalahkan jamaah India terkait wabah kolera

Proses karantina dapat berlangsung antara dua minggu dan beberapa bulan, tergantung pada penemuan atau penularan penyakit di antara para calon jamaah haji. Begitu kesehatan mereka dinyatakan layak melakukan perjalanan, mereka akan kembali ke kapal dan melakukan perjalanan ke Jeddah. Ini dapat memakan waktu kurang lebih dua minggu.

Kemungkinan mereka akan tinggal di Makkah selama seminggu atau lebih, seperti kebanyakan peziarah lainnya. Dan kembali melakukan perjalanan dengan berjalan kaki atau bagi yang memiliki uang banyak dapat menaiki unta ke Madinah dengan kafilah lain. Selanjutnya melakukan perjalanan lagi ke Jeddah. Seluruh perjalanan memakan waktu tidak kurang dari empat bulan, dan dalam banyak kasus dapat lebih lama dari itu.

Sekembalinya dari Makkah, mereka diberi gelar kehormatan Haji. Banyak dari mereka yang memajang foto, sertifikat atau pemandangan dari Makkah di rumah mereka untuk mengumumkan status mereka ke seluruh masyarakat atau rekan-rekan mereka di India.

Banyak yang mendapat keuntungan dari peluang bisnis dari perjalanan haji ini. Mencampuradukkan antara spiritual dan komersial sehingga pendapatan mereka di sepanjang jalan dibayar untuk biaya perjalanan. Sejumlah besar jamaah haji juga termotivasi oleh tujuan komersial semata. Hal  ini tercermin banyaknya jamaah dari India yang menetap di Makkah dan berdagang di sana.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Mgrol97
BERITA TERKAIT