Kisah Pahitnya Karantina Haji di Pulau Kameran
Jumat , 22 Desember 2017, 07:30 WIB

Jamaah haji asal Ternate

Calon jamaah haji dimasa kolonial Belanda ternyata juga mengalami proses karantina. Adapun kala itu ada dua karantina di Indonesia yakni di Pulau Onrust (Kepulauan Seribu, Jakarta) dan di Pulau Robiah (Sabang, Aceh). Tujuan karantina ini untuk mengetahui kesehatan calon jamaah haji apakah layak atau tidak untuk melakukan perjalanan ke tanah suci.

Pada waktu itu, setelah calon jamaah haji memiliki pas haji yakni dengan membayar biaya sebesar 100 gulden (f100), setara dengan 50 dolar AS kepada Belanda, maka mereka dapat lanjut ke tahap berikutnya. Jamaah kemudian akan di karantina telebih dahulu di Pulau Onrust (Kepulauan Seribu, Jakarta). Dalam masa karantina itu, jamaah akan dicek kesehatannya.

Setelah melewatii pos karantina pertama, calon jamaah  haji selanjutnya akan dikarantina di pulau Robiah (Sabang, Aceh). Khusus bagi jamaah haji asal Sumatra, pemeriksaan kesehatan langsung di Pulau Robiah, tak perlu ke pos pertama.
Di pos kedua ini, jamaah mendapat kepastian apakah masih layak menempuh  perjalanan jauh atau gagal berangkat, disebabkan terjangkit penyakit atau alasan medis tertentu.

Setelah melewati pos kedua, jamaah haji pun menempuh pelayaran panjang hingga mencapai Laut Merah. Sebelum memasuki Jeddah, jamaah haji diperiksa kembali di pos karantina Pulau Kamaran selama 3 sampai 4 hari. Awalnya, pemerintah Turki menjadikan Pulau Abu Sa’d sebagai tempat pemeriksaan kesehatan. Namun, demi menjaga agar penyakit tidak mudah menular, maka pemerintah Turki memindahkannya di sebelah selatan yakni di Pulau Kamaran.

Selain itu ada juga pos karantina di Pulau Wasta dan Abu Ali. Ketiga pulau itu terletak tidak jauh dari Makkah. Bagi  yang didiagnosa terjangkit penyakit, ia dirawat di pulau itu hingga sakitnya sembuh. Sesampai di Jeddah, para jamaah haji kembali diperiksa di pos-pos karantina berskala kecil.


Redaktur : Muhammad Subarkah
Reporter : Mgrol97