Selamat Datang di Arab, Bung!
Ahad , 06 August 2017, 07:41 WIB

Nashih Nashrullah Republika
salah satu sudut Kota Makkah

IHRAM.CO.ID,  Wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah Arab Saudi 

Jika Anda belum pernah dan atau ingin bepergian ke negara-negara Arab, jangan pernah membayangkan layanan publik, apapun itu, akan sama persis dengan wajah dan karakter pelayanan umum di Tanah Indonesia. Senyuman, keramahan, disiplin, dan ketepatan waktu, adalah barang yang langka ditemui.

Barangkali ada yang ramah iya, tetapi itu jarang. Cobalah mengunjungi kawasan-kawasan Arab. Secara umum, kita lebih dipaksa harus lebih banyak bersabar, menahan keras urat marah kita menghadapi mereka. Wajah tak menyenangkan pelayanan umum ini juga ternyata kami temui di Makkah, Arab Saudi. 

“Masa kita dicuekin. Dia melayani sambil banyak mengobrol dengan rekan kerjanya,” kata Suwiryo, penyiar Radio Elshinta, salah satu anggota tim Media Centre Haji (MCH) 2017.

Kekesalannya itu dia sampaikan usai mengurus kartu perdananya di salah satu provider terkemuka Saudi. Kami bahkan harus menunggu hampir 20 menit di hadapan customer service officer (CSO), hanya untuk mendapatkan jawaban bahwa kartu tersebut telah diblokir. Sabar ji, ini Haram, celoteh saya.

Sarana telekomunikasi merupakan salah satu incaran jamaah haji selama berada di Makkah. Setidaknya ada tiga provider telekomunikasi besar yang beroperasi di negara petro dolar ini yaitu STC yang berplat merah, Mobily, dan Zain.

Pilihan menggunakan nomor lokal Saudi antara lain karena alasan ekonomis. Sebab pertimbangan itulah, konter pembelian sim card yang berada tak jauh dari Masjid al-Haram, Makkah selalu dipadati jamaah.

Tiga provider itu membuka konter saling berdekatan satu sama lain di lantai dasar Hotel Dar Al Tawhid Intercontinental. Antrian membludak. Namun, sekali lagi jangan samakan pembelian kartu dengan aturan yang berlaku di negara kita. 

Satu orang dengan satu identitas paspor hanya diperbolehkan memiliki satu sim card dan tak bisa merangkap provider lainnya.

Hanya warga lokal dan mukimin yang bisa menggunakan dua nomor. Sementara bandingkan di negara kita, bisa membeli kartu perdana layakanya membeli kacang goreng.

Jangan lupa pula, tidak asal membeli paket di dalam kartu. Ada tiga paket, paket telepon saja, telepon dan data, atau hanya paket data.

Jika Anda salah membeli dan ingin membatalkan, harus menunggu 1x24 jam untuk mengganti data. Sebab ketidaktahuan itulah, beberapa hari pertama tim MCH terpaksa disibukkan mengurus kartu perdana. 

Kesan tak ramah menguak pula saat saya hendak bertanya ke salah satu petugas Haram perihal tanda pengenal apakah yang dia kenakan.

Pertanyaan memang sekadar basa-basi, Cuma ingin tahu saja. Namun niat baik saya tak seimbang dengan respons yang saya terima. ”Apa urusan Anda, lanjut saja kegiatan Anda sendiri,” jawab dia ketus, tepat di depan Ka’bah! Alamak.

Memang benar-benar diuji kesabaran ini. Potret kurangnya keramahan antara sesasama Muslim ini tak berbanding lurus dengan ajaran Islam yang sehari-hari kita pelajari. Islam itu murah senyum. Agama kita ini mengajarkan pentingnya beramah-tamah. Begitu. 

Memang acapkali, antara ajaran dan praktik tak selalu sinkron di dunia Islam. Agama kita mengajarkan kebersihan, namun di negara-negara Islam justru idententik dan familier dengan pola dan gaya hidup kumuh.

Agama mendidik kita untuk disiplin, namun justru kita suka abai kedisiplinan. Malah tak jarang masalahnya kita mendapati ajaran-ajaran Islam terpraktikkan dengan baik di negara non-Muslim. 

Cendekiawan Muslim Mesir, Syekh Muhammad Abduh, pernah mengemukakan kegelisahannya. Usai menghadiri sebuah konferensi pada 1881 di Paris, Prancis, dia berkelakar bahwa dirinya menemukan nilai dan ajaran Islam begitu dipraktikkan di Barat, meski dia tidak melihat keberadaan orang Islam di sana pada masa itu.

Namun begitu dia kembali ke negaranya dan ke negara-negara di bagian timur, dia memang mendapatkan umat Islam, tetapi dia gelisah justru ajaran dan nilai agama tidak terlaksanakan dengan baik.

”Begitu saya kembali ke Timur, saya dapatkan umat Islam, tetapi tidak menemukan praktik Islam,” kata dia. Perlu kesabaran dan ikhitar menjaga hati yang lebih ekstra selama berada di tanah suci. Perlakuan sikap tak menyenangkan abaikan saja. Tak usah dimasukkan hati. Selamat datang di Arab, Bung!     

 

Redaktur : Nasih Nasrullah