‘Indonesia, Bagus!’
Senin , 07 August 2017, 14:56 WIB

Tahta Aidilla/Republika
Petugas memberikan penjelasan cara penyimpanan dokumen dan paspor di Asrama Haji Bekasi, Jawa Barat, Senin (31\7)

IHRAM.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah, wartawan Republika.co.id, dari Makkah, Arab Saudi

Untuk kesekian kalinya, ungkapan tersebut saya dengar dari beberapa orang Pakistan, Bangladesh, dan tak sedikit dari jamaah haji dari negara Arab yang berbincang di sekitar Masjid al-Haram. Indonesia? Bagus. Indonesia? Kuwaisin, demikian mereka berceletuk. Celetukan itu bukan tanpa maksud. Mereka paham betul bagaimana karakter jamaah haji kita selama di tanah suci, baik di Makkah atau Madinah.

Di Makkah, nama jamaah haji Indonesia harum karena sikap mereka yang ramah dan disiplin. Kemeriahan yang ditunjukkan selama menjalankan prosesi berumrah, juga konon menjadi identitas penanda bagi jamaah Indonesia. Atributnya juga demikian. Sangat bermacam-macam dan Indonesia banget. Mudah mengenali jamah Indonesia. Lihatlah atribut dan keramaian ritual mereka!

Soal belanja pun demikian. Jamaah Indonesia dikenal shopaholic. Apa saja dibeli. Asalkan barang itu diborong di Arab Saudi, pasti value dan rasanya berbeda; oleh oleh dari tanah suci, meskipun aneka barang tersebut padahal //made in China. Jangan tanya ihwal keroyalan jamaah Indonesia. Mereka terkenal suka memberi ba’syisy atau tips entah kepada supir bis, atau siapapun.

Reputasi baik ini identik pula dengan para petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) Indonesia. Pantauan saya, tak banyak petugas haji negara lain yang berpatroli di kawasan Masjid al-Haram dengan seragam dan peralatan lengkap, minimal handy talkie, seperti kesan ketika melihat petugas haji dari Pakistan dan Malaysia.  

Kesigapan petugas haji Indonesia juga mendapat pujian. Saat insiden Mina 2015, hanya Indonesia satu-satunya yang berhasil mengidentifikasi keseluruhan korban yang berjumlah 129. Prestasi yang tak ditemukan dari negara lain.

Mobilisasi massa dalam jumlah ratusan ribu bukan hal yang gampang, apalagi dalam konteks lokasi pelaksanaannya berada di negeri orang. Inilah yang terjadi tiap tahun terkait penyelanggaran haji oleh pemerintah. Sebanyak 221 ribu jamaah haji dimobilisasikan sedemikan rupa sejak di tanah air.

Mulai dari pelatihan manasik, pemberangkatan, hingga prosesi demi prosesi selama berada di Arab Saudi dengan sistem yang mapan dalam koridor UU Haji No 13 Tahun 2008.  “Saya berharap semua jamaah haji yang datang ke Tanah Suci berasal dari Indonesia,” kata Wakil Kepala Muassasah al-Muthawif Asia Tenggara, Yousif A Jaha.  

Satu, dua, dan tiga jamaah mungkin tidak disiplin, namun secara umum, potret jamaah Indonesia sangat tertib dan disiplin. Indonesia memberikan teladan ke negara-negara lain. Menurut Yousif, banyak negara yang sengaja studi banding dan belajar dari penyelenggaraan haji Indonesia. Rata-rata takjub dengan sistematis dan dispilinnya penyelenggaraan haji. ”Indonesia Adalah teladan terbaik jamaah haji,” kata pria berdarah Serang, Banten ini.

Kekaguman juga disampaikan Mohamed Ahmed Elshaer, General Manager Al Keswah Hotel. Sudah tiga tahun hotel yang dia kelola menjadi pemondokan jamaah haji Indonesia. Dia terkesan dengan perilaku dan karakter jamaah kita secara umum. Elshaer bahkan sangat mencintai Indonesia dan pernah beberapa kali berkunjung ke negara kita. ”Haji Indonesia meski jumlahnya banyak tetapi tetap disiplin,” kata dia.

Kepergian kita ke tanah suci, tak sekadar menyempurnakan rukun Islam kelima, tetapi nama harum Indonesia ada di pundak kita. Islam Indonesia dikenal dunia sebagai Islam yang ramah, pada 1996 Majalah Times dan Newsweek pernah menulis Islam Indonesia dengan sebutan Islam with a smiling face, wajah Islam yang ditampilkan oleh Muslim Indonesia adalah perwajahan yang ramah, bukan pemarah.

Di tengah-tengah memanasnya perpolitikan tanah air belakangan, saya masih berkeyakinan, muka Islam Indonesia, tidak tercoreng tinta hitam begitu saja. Masih ada senyuman, keramahan, dan penghormatan terhadap tradisi yang masih bertahan.

Lihatlah raut muka bahagia para jamaah haji. Perhatikan seksama optimisme jamaah kita. Dan berkacalah dari keteguhan dan kegigihan para jamah lanjut usia kita. Haji adalah momentum kembali menegaskan jati diri Muslim Indonesia tersebut. Islam yang optimis, Islam yang ramah, Islam yang bangga dengan tradisi. Indonesia, (semoga) bagus!

 

Redaktur : Nasih Nasrullah