Drama Kolosal Itu Dimulai, Sejak Sekarang
Selasa , 08 Agustus 2017, 18:08 WIB

REUTERS
Muslim pilgrims circle the Kaaba at the Grand mosque in Mecca, Saudi Arabia September 8, 2016.

IHRAM.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah wartawan Republika.co.id, dari Makkah, Arab Saudi 

Pemandangan ribuan orang yang sedang melaksanakan tawaf, Jumat (4/8) dini hari, membuat bulu kuduk berdiri. Ribuan jamaah dari berbagai negara mulai tiba di Makkah. Jamaah dari India, Pakistan, Asia Tengah, Bangladesh, Turki, dan sejumlah negara Arab tampak di kawasan sekitar al-Haram.  

Ini pertama kali saya melihat secara live bagamana area Ka’bah dipenuhi para jamaah. Biasanya tayangan semacam ini hanya saya peroleh dari tayangan televisi atau rekaman di Youtube. Kali pertama ini pula merasakan kepadatan jamaah haji melaksanakan tawaf dan sa'i, sebagai bagian dari pelaksanaan umrah untuk haji tamattu.’ Saat pertama kali tiba pekan lalu di Makkah, suasana al-Haram masih cukup lengang.

Suasana padat ini pun belum ditambah kehadiran jamaah haji Indonesia yang berjumlah 221 ribu itu. Seperti apa pemandangannya nanti? Ini pertanyaan serius bagi saya. Dan tentu, rasa penasaran semakin menguat. Jumlah yang baru ribuan saja begitu padatnya, apalagi nanti bila keseluruhan jamah haji sudah masuk Makkah. 

Di pelataran Ka’bah sejajar dengan garis Mulztazam, saya menyaksikan apa yang Ali Syariati sebut dalam karyanya bertajuk Haji/Pilgramage, bahwa pelaksanaan haji adalah pertunjukan drama kolosal. Kata kolosal maknanya proses haji melibatkan ragam unsur yang berbeda dengan kapasitas yang tak kecil. 

Pertama unsur aktor dengan jumlah yang sangat besar. Kedua, setting, atau tempat peristiwa yang tak kalah besar pula. Dan terpenting adalah bahwa haji menyajikan alur cerita yang sangat kompleks dengan cakupan yang universal. 

Ritual haji adalah ibadah multidimensi yang menggerakkan tidak hanya fisik, tetapi juga mata batin. Kita benar-benar dituntut menjalani tiap alur dan memerankan masing-masing peran yang ada dalam drama kolosal itu. Bagaimana kita harus beradu fisik dengan orang-orang Arab, yang secara ukuran basar, jauh di atas-atas orang Asia Tenggara. 

Kita juga akan diuji mengolah hati begitu saling berimpitan dengan jamaah haji negara lain dalam kondisi yang sama-sama berkeringat. Jangan sampai kita mencibir peran orang lain, sementara kita mengabaikan sendiri konsistensi peran yang menjadi jatah kita.  

Haji, dalam refleksi Syariati, menekankan pula tentang urgensi dari inti dan substansi pesan dalam kisah atau cerita. Sebuah drama haruslah mendidik. Drama tanpa pesan ibarat pepesan kosong. Ia akan menarik ditonton saja, tetapi tumpul memberikan makna bagi masyarakat. Drama tanpa isi hanya akan memudarkan pesan dan hikmah agung dalam sebuah skenario.

Pelajaran penting inilah yang tak bosan-bosannya menjadi santapan para petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) selama pembekalan di Asrama Haji Pondok Gede. Tugas yang diemban cukup besar. Mengantarkan para pemeran atau aktor dalam drama kolosal ini, yaitu para jamaah haji sukses menjalankan peran mereka.

Sukses memerankan peran sebagai ummah dengan menghadirkan satu kohesi yang kuat. Sejak jamaah haji mengambil miqat, Syariati beranggapan, sejatinya dia telah meleburkan dirinya dan mengambil bentuk baru sebagai manusia. Semoga ego dan kecenderungan individual telah terkubur. "Semua keakuan telah mati di miqat dan yang ada kini hanyalah kita,” tulis Syariati.  

Ummah, dalam pengertian Syariati, memiliki tiga arti yang utama, yaitu gerakan, tujuan, dan ketetapan kesadaran. Dalam Amma, yang menjadi kata dasar ummah, dia menarik empat makna lagi yaitu ikhtiar, gerakan, kemajuan, dan tujuan. Perjalanan haji adalah salah satu perekat yang bisa menyatukan umat dalam satu kekuatan, berbekal modal sosial dan ajaran agung transendental.     

Tepat di bawah rambu penanda berwarna hijau yang berada di dinding atas sisi dalam Masjid al-Haram, titik bermula dan berakhirnya tawaf, setiap putaran thawaf jamaah haji yang saya saksikan tersebut menguatkan tentang apa yang digarisbawahi oleh Syariati. Ihwal sebuah drama kolosal, aktor, alur cerita, dan tentang pesan agung haji yang universal itu.   

 

 

 

Redaktur : Nasih Nasrullah