Memaknai Perjuangan Rasul di Jabal Uhud
Kamis , 10 August 2017, 01:00 WIB

dok. Pribadi
Ani Nursalikah

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Wartawan Republika.co.id, Ani Nursalikah

Panas yang memanggang siang itu tidak menyurutkan semangat tim Media Center Haji (MCH) berziarah ke Jabal Uhud di Madinah, Arab Saudi. Sayang, karena berkunjung saat siang, kami tidak menjumpai rombongan jamaah haji Indonesia. Peziarah yang datang juga tidak banyak. Mungkin karena cuaca yang sangat menyengat. Saat itu suhu tercatat 47 derajat Celsius.

Peziarah justru banyak dari India, Afrika Selatan, Bangladesh dan Turki. Dua orang jamaah haji Pakistan sempat mengajak saya berfoto bersama. Karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris, kami hanya bertukar sapa dan mengatakan asal negara.

Gunung (jabal) Uhud merupakan salah satu tempat istimewa alami dan menonjol di Kota Madinah. Letaknya di bagian utara dari Masjid Nabawi berjarak 4,5 kilometer.

Panjang Gunung Uhud mencapai delapan kilometer dan lebarnya berkisar antara dua-tiga kilometer. Dia menjulang dengan ketinggian sekitar 1.077 meter di atas permukaan laut.

Gunung ini mempunyai kedudukan istimewa di hati kaum Muslimin karena namanya terkait dengan pertempuran besar, yaitu peperangan Uhud yang berlangsung antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin pada tahun 3 hijriyah.

Dalam perang ini kaum Muslimin menderita kekalahan pahit. Musuh begitu ganas menyerang hingga paman dan sahabat Nabi pun tewas dalam kondisi hancur. Selain sebagai ujian bagi umat Islam, kekalahan ini juga disebabkan kelalaian dan ketidakpatuhan pasukan Muslim pada panglima mereka.

"Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya," demikian hadits riwayat Al Bukhori.

Saya mendaki puncak terdekat. Tidak terlalu menanjak. Namun, harus hati-hati karena berbatu dan berpasir. Jika tidak mantap berpijak, bisa-bisa peziarah jatuh karena licin.

Di bagian puncak sudah berkumpul banyak jamaah. Ada yang khusyuk memanjatkan doa, ada yang tampak kagum menikmati suguhan pemandangan kota dan ada juga yang asyik berfoto.

Dari kejauhan nampak pemakaman syuhada Uhud, yakni makam sahabat Rasulullah yang mati syahid dalam peperangan Uhud yang terjadi pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriyah. Paman Nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib merupakan yang terdepan.

Nabi Muhammad sering menziarahi makam ini dari waktu ke waktu. Saat ini, makam tersebut dipagari tinggi.

Pengunjung tidak dipungut biaya masuk. Dari tempat parkir, jamaah sudah disambut penjaja buah anggur hijau yang menggelar dagangannya di truk pikap. Seorang bapak dan anak lelakinya menjual anggur seharga 10 riyal satu pak.

Lapak-lapak penjual kaki lima berjajar di kiri kanan sepanjang jalan menuju kaki gunung. Di bawah naungan payung-payung plastik mereka menjajakan dagangannya.

Ada obat tradisional, madu, berbagai jenis minyak, gamis, jilbab, tasbih, mukena, dan berbagai jenis suvenir. Mereka juga menjual minyak gosok dan jamu produk Indonesia. Tak ketinggalan, pedagang kurma.

Namun, yang paling banyak dicari adalah rumput fatimah dan buah senang. Konon, mengonsumsinya mampu menambah kesuburan bagi perempuan.

Menurut sopir tim MCH, Pak Sahe, yang telah menetap di Saudi selama 34 tahun, dulu para pedagang kaki lima menggelar dagangannya begitu saja dan tidak tertata. Kini lapak mereka sudah lebih tertata.

Seorang jamaah haji asal Afrika Selatan bernama Isyana memaknai ziarahnya ke Uhud sebagai suatu perjalanan spiritual. Perempuan berkerudung hitam tersebut mengaku sulit menggambarkan apa yang ia rasakan.

"Saya tidak biasanya kehabisan kata-kata. Saya tidak bisa menemukan kalimat untuk menjelaskan perasaan. Ini pengalaman yang sangat menyentuh," kata perempuan yang berhaji dengan suaminya tersebut.

Saat berbincang singkat Isyana mengutarakan harapannya. Mengingat perjuangan Rasulullah menyebarkan agama Islam, dia ingin umat Muslim bersatu.

"Kadang kita berpikir kita besar, tapi ketika melakukan perjalanan ini saya sadar betapa kecilnya kita. Saya berharap anak saya bisa belajar mengeksplorasi ini dan membuat perbedaan di dunia," ujarnya.

Lebih baik mengunjungi Gunung Uhud saat pagi atau sore hari ketika cuaca lebih bersahabat. Umumnya, jamaah Indonesia berkunjung pada pukul 07.00 hingga 10.00. Selepas itu, mereka akan bersiap menuju Masjid Nabawi untuk shalat dzuhur.

Jangan memaksakan diri menaiki bukit, apalagi jika kondisi fisik tidak cukup fit. Bawalah air minum, botol semprot berisi air untuk wajah, dan pelindung diri, seperti kacamata hitam, topi dan payung. Membawa bekal makanan.

Jamaah juga bisa mendapatkan buku doa yang dibagikan secara cuma-cuma. Ada petugas yang membagikannya di pos tidak jauh dari makam syuhada.

Bagi saya, napak tilas ini menjadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan.

Redaktur : Agus Yulianto