Hilir Mudik Raja Jalanan
Ahad , 13 August 2017, 13:36 WIB

dok. Pribadi
Ani Nursalikah

IHRAM.CO.ID, Oleh : Wartawan Republika.co.id, Ani Nursalikah dari Madinah

Ada satu kebiasaan warga Arab Saudi yang harus diwaspadai jamaah haji Indonesia di Madinah. Orang Arab gemar memacu tunggangannya dengan kecepatan tinggi.

Jamaah yang akan menyeberang jalan ingatlah untuk selalu waspada. Jangan lengah dan jangan lupa tengok kiri dan kanan sebelum menyeberang. Apalagi mereka jarang menyalakan lampu sein saat akan berbelok dan menyalip.

Apalagi jalanan di Madinah terbilang lengang. Bisa dibilang hampir tidak ada kemacetan.

Bagi saya yang tidak terbiasa dengan situasi ini tentu terkaget-kaget dan cukup membuat jantung berdebar saat berada di jalanan. Bukan hal yang aneh bagi warga Arab memotong jalan kendaraan lain untuk berbelok.

Tapi, tak ada yang membunyikan klakson tanda protes. Semua seperti sudah maklum.

Hal itu berbanding terbalik dengan situasi di Jakarta. Klakson panjang yang memekakkan telinga akan berbunyi sebagai tanda protes sang pengemudi.

Menyeberang jalan memang bisa jadi pengalaman yang mendebarkan. Karena itu saya memilih untuk selalu menyeberang secara berkelompok.

Jamaah haji Indonesia juga sebaiknya menyeberang bersama-sama. Jalanan di Madinah sangat kebar. Apalagi jamaah Indonesia sebagian besar telah renta. Tentu menyeberang jalan butuh waktu.

Sebelumnya, seorang jamaah haji kloter 8 Embarkasi Ujungpandang kritis akibat tertabrak mobil saat menyeberang jalan menuju Masjid Nabawi. Jamaah perempuan ini tertabrak karena terpisah dengan rombongannya.

Warga Saudi juga tidak segan-segan menyalip meski jalurnya sangat sempit. Suatu waktu, sebuah mobil sedan di depan kendaraan tim Media Center Haji dengan kecepatan tinggi menyalip sebuah bus. Padahal, dari jauh jelas terlihat tidak mungkin mobil itu melewatinya.

Sreeet! Benar saja sisi kiri mobil sedan itu menggores badan bus. Sopir mobil pun turun.

Sayang, kami harus berbelok sehingga saya pun tidak tahu kelanjutannya. Tapi, sopir tim Media Center Haji yang mengantar mengatakan insiden seperti itu bisa berakhir di penjara jika sopir bus tidak memiliki asuransi. Kok bisa? Jadi di Saudi pihak yang ditabrak bisa dipenjara jika tidak memiliki asuransi.

Hal unik lainnya yang berbeda dengan di Indonesia adalah soal marka jalan. Marka jalan tidak ditandai dengan cat seperti di Tanah Air, tapi dengan polkadot-polkadot berwarna kuning dan putih yang menonjol.

Katanya, polkadot-polkadot ini dipasang supaya sopir tidak mengantuk. Getaran juga terasa di mobil saat berpindah jalur.

Oh iya, jangan kaget melihat mobil-mobil mahal yang kondisinya penyok di sana-sini. Warga Saudi tergolong cuek soal perawatan mobil.

Mereka menyenangi mobil-mobil bongsor. Kendaraan roda empat buatan Amerika sangat banyak. Hampir sebagian besar memakainya.

Mereka punya kebiasaan parkir yang cukup membuat geleng-geleng kepala. Saat parkir, mereka belum akan berhenti jika mobil belum menghantam pembatas jalan atau trotoar.

"Bagi mereka, belum afdhal rasanya kalau belum mentok," kata seorang mukimin. Jangan heran kalau bodi mobil di sini tidak mulus lagi.

Redaktur : Agus Yulianto