Menyapa Masjid yang Dibangun oleh Tangan Rasul
Senin , 14 Agustus 2017, 13:33 WIB

dok. Pribadi
Ani Nursalikah

IHRAM.CO.ID, Oleh : Wartawan Republika.co.id, Ani Nursalikah dari Madinah

 Berada di Madinah tidak lengkap rasanya tanpa menziarahi Masjid Quba'. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun dalam Islam.

Masjid Quba' ramai oleh jamaah haji dari berbagai penjuru dunia saat waktu dhuha. Saat Republika.co.id menziarahi Quba', Senin (7/8), jamaah haji dari Afrika, Iran, Irak, India, Indonesia dan warga setempat tampak hilir mudik.

Masjid ini memiliki halaman belakang yang sangat luas yang menghubungkan tempat parkir dengan bangunan utama masjid. Di halaman ini banyak pedagang yang menjajakan beragaam jenis kurma, pakaian, tasbih, kacang-kacangan, dan masih banyak lagi.

Kurma nabi atau kurma ajwa dilepas dengan harga 40 riyal per dua kilogram setelah melalui proses tawar-menawar. Pedagang menawarkan dagangannya dengan bahasa Indonesia seadanya. Tawar-menawar lazim dilakukan antara penjual dan pembeli.

Umumnya jamaah haji yang sedang melakukan arbain di Masjid Nabawi menyempatkan mengunjungi Quba' saat pagi hari. Mereka sudah harus meninggalkan Quba' jelang waktu dzuhur.

Dari halaman belakang, ruang shalat perempuan berada di sebelah kanan. Ruang shalat ini berada di lantai atas. Toilet dan tempat wudhu terpisah dengan ruang shalat utama. Letaknya sebelum menaiki tangga. Jangan khawatir tersedia jalur bagi jamaah yang memakai kursi roda.

Para askar perempuan yang berpakaian serba hitam dan bercadar menjaga dua pintu masuk utama. Mereka menginstruksikan jamaah agar meletakkan alas kaki di rak yang disediakan.

Jamaah shalat dengan khusyuk. Bahkan, sebagian dari mereka mengangkat tangan memanjatkan doa hingga meneteskan air mata

Rasulullah SAW membangun Masjid Quba dengan tangan beliau sendiri ketika sampai di wilayah Quba' saat berhijrah dari Makkah. Rasul ikut memikul batu bata saat pembangunannya.

Ketika pembangunan masjid ini selesai, Rasulullah mengimami shalat selama 20 hari. Nabi sering mengunjunginya untuk melaksanakan shalat di dalamnya.

Biasanya Nabi memilih melakukannya setiap Sabtu. Karena itu, parkiran masjid sangat penuh pada Sabtu, bahkan sampai meluber ke jalan. Rasul menganjurkan umat Muslim mengunjungi masjid tersebut.

Shalat fardhu atau shalat sunah di masjid ini memiliki keutamaan. "Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba' dan shalat di dalamnya, maka ia mendapatkan pahala umrah" (HR Ibnu Majah).

Jamaah asal Bogor Devita Ramdania (18 tahun) mengatakan dia memang telah menantikan kesempatan menunaikan shalat di Masjid Quba'. "Tadi shalat sunah tahiyyatul masjid dan shalat dhuha karena pahalanya setara dengan umrah," katanya yang mendaftar haji saat SD.

Masjid dengan luas tanah sekitar 5.035 meter persegi ini awalnya merupakan tanah bekas kebun kurma milik seorang sahabat Rasulullah. Ketika pertama dibangun, masjid ini hanya memiliki luas 1.200 meter persegi. Di sinilah tonggak pertama syiar Islam yang bakal menerangi seluruh dunia dengan cahaya Ilahiah.

Dalam buku Madinah Al-Munawwarah, Sejarah dan Tempat-Tempat Istimewa terbitan Al-Madinah Al-Munawwarah Research & Studies Center 2013 disebutkan pada masa lalu, kaum Muslimin memberikan perhatian pada Masjid Quba'. Masjid ini sempat mengalami sejumlah renovasi. Renovasi terakhir dilakukan pada 1405 Hijriyah atau 1985.

Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahad bin Abdul Aziz memerintahkan rekonstruksi dan perluasan masjid hingga beberapa kali lipat dengan tetap menjaga keaslian warisannya dengan akurat. Maka, masjid ini dibangun dengan bentuk koridor selatan dan utara dimana keduanya dipisahkan oleh teras terbuka. Kedua koridor tersebut tersambung oleh dua koridor panjang di sisi timur dan barat.

Koridor selatan beratapkan kubah-kubah besar sebanyak enam buah. Sedangkan koridor utara yang merupakan tempat shalat perempuan beratapkan kubah-kubah kecil sebanyak 32 buah.

Terasnya beratapkan payung bergerak yang dapat dibuka dan ditutup dengan listrik. Di empat sisinya dibngun pula empat menara. Masjid Quba' dikelilingi perkebunan Quba' yang subur.

Redaktur : Agus Yulianto