Senyum Lebar Sopir Sudan, Sepuluh Ribu Ditukar Empat Riyal
Sabtu , 19 Agustus 2017, 05:00 WIB

Republika/ Nashih Nashrullah
Bus shalawat di Terminal Syaib Amir, Makkah

IHRAM.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah, wartawan Republika.co.id, dari Makkah, Arab Saudi

Ini yang pernah saya bilang sebelumnya; jamaah haji Indonesia terkenal royal. Terkenal saya bilang. Ada satu dua yang barangkali pelit, mungkin saja, tapi sekali lagi, secara umum jamaah haji Indonesia tersohor kedermawanannya selama berada di tanah suci.

Pagi itu, Selasa (17/8), dalam perjalanan pulang dari Sektor Lima di Raudhah, Makkah, menggunakan bus antar-jemput (shalawat), dua orang jamaah haji perempuan asal Indonesia meminta saya mengingatkan kepada supir agar berhenti di Bin Dawood, sebuah supermarket terkemuka di Arab Saudi.

Tingkatan Bin Dawwod kira-kira selevel dengan Carefour, Lotte, Giant, Hipermart, atau pusat perbelanjaan lainnya di tanah air. Saya tak hendak bertanya ada keperluan apa kedua ibu-ibu paruh baya itu ‘bertamasya’ di Bin Dawood. Saya hanya mengiyakan saja permintaan keduanya kepada supir, yang ternyata berasal dari Sudan.

‘Ashim Muhammad, nama supir itu. “Jangan lupa berhenti di Bin Dawood,” kata saya. “Tenang sebentar lagi,” kata dia. Bus akhirnya berhenti tepat di depan supermarket tersebut.

Sebetulnya tidak ada halte pemberhentian khusus di pusat perbelanjaan itu, lazimnya yang ada di pemondokan-pemondokan jamaah haji Indonesia. Ashim memang secara khusus menghentikan kendaraannya tersebut guna memenuhi permohonan dua jamaah haji Indonesia.

“Ini mas tolong kasihkan supirnya,” kata salah satu dari dua jamaah tersebut kepada saya dengan menyodorkan duit yang digulung. Saya semula tidak tahu-menahu, berapa jumlah uang yang diberikan. Tebal saya pikir, pasti besar jumlahnya. Penasaran, saya pun iseng membuka  gulungan uang tersebut atas seizing Áshim dan ternyata duit pemberian tadi sebesar Rp 10 ribu dengan pecahan masing-masing Rp5.000. Saya tersenyum kecil.       

Nominal sepuluh ribu rupiah sudah cukup lumayan di negeri kita, bisa untuk membeli setengah bungkus rokok, atau satu mangkok mi ayam, tanpa bakso, lengkap dengan sebotol gelas air mineral, atau bisa juga untuk tambahan bensin satu liter lebih sedikit. Tetapi jumlah tersebut dibanding dengan biaya hidup di Makkah, sebagai salah satu kota metropolitan di kawasan teluk, tentu tidak seberapa.

Uang sepuluh ribu ekuivalen dengan dua riyal lebih sedikit. “Wallah, hanya dua riyal?” kata ‘Ashim. Saya meyakinkannya. Kurang lebih dua riyal lebih sedikit, tidak sampai tiga riyal, kata saya. ‘Ashim pun tersenyum mengisyarakatkan dia menghargai berapapun tips yang dia terima.

Kedermawanan memang melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Nilai agama, tradisi, dan hubungan masyarakat menjadi potensi kuat kedermawanan kita. Meski dua survei internasional menempatkan  kita di urutan yang kurang menyenangkan. The Gurdian menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 negara yang paling dermawan dari 146 negara yang disurvei.

 Skor Indonesia hanya 35 persen di bawah Myanmar, Filipina, Thailand. Survei menyebut sebanyak 45 persen masyarakat Indonesia memberikan donasi, 27 persen terjung di bidang kerewalanan, dan hanya 35 persen orang Indonesia yang berkenan berdonasi untuk orang yang tidak mereka kenal.

Menurut survei ini, Australia disebut sebagai negara yang paling dermawan. Sedangkan survei lain menempatkan Indonesia berada di nomor 13 negara paling dermawan, merujuk laporan Gallup dan Charities Aid Foundation (CAF) pada 2014 yang bertajuk World Giving Index.  

Sementara itu, mengutip laporan kedermawanan Indonesia yang tertuang dalam Levers for Change: Philanthropy in Select South East Asian Countries hasil prakarsa PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dan PFI (Perhimpunan Filantropi Indonesia), perkembangan sumbangan individu masyarakat Indonesia cukup signifikan sejalan dengan meningkatnya perekonomian dalam negeri.

Merujuk data PIRAC 2007, tingkat kedermawanan masyarakat Indonesia sangat tinggi yaitu mencapai 99,6 persen dengan rata-rata sumbangan Rp.325.775 per orang, per tahun.  

Mendekati Terminal Syib Amir, secara  spontan, Ashim tiba-tiba berceloteh,”Jika begitu genapkan saja tiga riyal,” ucap dia sambil tersenyum. Baiklah, saya genapkan sekalian menjadi empat riyal sebagai ganti Rp10 ribu uang tips jamaah tadi untuk Anda, ‘Ashim. Kali ini, Ashim tak lagi hanya tersenyum, tetapi sungguh tertawa lebar. Masa saya kalah dengan jamaah, ‘Ashim?    

 

Redaktur : Nasih Nasrullah