Mimpi Leluasa Menjepret Masjid al-Haram
Ahad , 20 August 2017, 08:19 WIB

Republika/Nashih Nashrullah
Tanda larangan memfoto Masjid al-Haram

IHRAM.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah, wartawan Republika.co.id, dari Makkah, Arab Saudi 

“Photography is a reality so subtle that it becomes more real than reality.” 

 (Alfred Stieglitz, 1864-1946)

Dia adalah Muhammad Shadiq Beik, fotografer pertama yang berhasil mengabadikan Ka’bah,  Masjid al-Haram Makkah, dan Masjid Nabawi Madinah. Gambar-gambar foto yang dia hasilkan merupakan dokumentasi penting terhadap obyek-obyek vital Arab Saudi pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Hasil jepretan anggota militer Mesir tersebut terangkum dalam setidaknya empat karyanya yang paling penting berjudul “Misy’al al-Muhmal”. Tebalnya hanya 60 halaman dan terbit pertama kali pada 1867. 

Foto-foto tersebut diambil selama kunjungannya di Arab Saudi pada 1860 dan 1880. Dia juga menggambarkan sketsa peta dengan tulisan tangan dan catatan penting sebagai pedoman yang memudahkan para haji, ketika itu. Ini antara lain meliputi nama-nama terminal, desa, nama jalan, hingga gang-gang di perkotaan. 

Saya sadar betul memang tidak fair membandingkan kondisi ketika itu saat Shadiq Beik membuat dokumentasi langka dengan apa yang berlaku sekarang di Masjid al-Haram.

Dari segi apapun jelas tidak sama. Tetapi, jika hanya berbincara ‘ingin’ atau ‘target’, bagi seorang jurnalis, tak pernah ada yang salah jika siapapun, apalagi wartawan asing seperti saya, ingin mendapatkan apa yang telah berhasil dicapai seorang Shadiq Beik.  

Sebelum berangkat menuju tanah suci, salah satu diskusi serius dengan redaktur foto di redaksi Republika, adalah keinginannya untuk mendapat foto-foto eksklusif jamah haji dari berbagai penjuru dunia yang berada di ring satu kawasan Masjid al-Haram; Ka’bah dan sekitarnya.  

Baik saya coba. Malam itu, Selasa (8/9) saya pun mencoba memasuki Masjid al-Haram dengan membawa tas lengkap dengan kameranya. Untuk mengelabuhi petugas, saya letakkan serban di atas tas yang saya jinjing di sebelah kiri. Awalnya saya sempat melenggang masuk, namun saat berjalan beberapa langkah, tiba-tiba.

“Indunisia..indunisiaa..”Deg.Langkah saya pun terhenti. Dia menanyakan kamera. Waw. Tertangkap basah. Dia melarang. Saya tidak bisa berkilah. Begitu hendak membuka tas yang satu lagi, dia hanya mendapati air mineral! Gagal sudah.

Penasaran dengan apa dan mengapa alasan fotografi dilarang, saya sempat berbincang dengan anggota keamanan anggota Keamanan Masjid al-Haram, ‘Adil Aidhah as-Syarif. Menurut dia, kebijakan ini telah baku dan resmi dikeluarkan oleh Pimpinan Masjid Nabawi dan Masjid al-Haram.

Segala kamera berukuran besar yang lazim digunakan professional dilarang di Masjid al-Haram, seperti kamera slr dan dslr dan kamera untuk keperluan video, misal. Lalu apa bedanya dengan kamera ponsel yang sudah serba canggih dengan hasil jepretan yang tak kalah bagus? “Ponsel tidak masalah boleh-boleh saja,” kata dia.

Dalam perbincangan dengan ‘Adil, dia menjawab, bahwa pada dasarnya menggunakan kamera professional diperbolehkan selama telah mengantongi izin resmi dari Kementerian Haji Arab Saudi.

“Saya akan izinkan Anda selama Anda punya tasrih dari Kementerian Haji kami,” kata dia. Ini dia yang menarik. Informasi yang selama ini belum pernah sampai pada kami.

Makanya bahwa kemungkinan akses ekslusif ada, hanya perlu melewati birokrasi. Apakah pernah ada fotografer yang mencoba mengajukan izin dan lalu mendapat akses foto secara bebas area vital Masjid al-Haram dari Indonesia?

Ini dia, saya sendiri belum pernah tahu. Saya hanya berpikir jika larangan tersebut adalah untuk menjaga kesucian al-Haram. Logis memang.

Namun jepretan foto-foto eksklusif al-Haram di tangan fotografer andal, yang jelas bukan saya, justru dalam hati kecil saya, akan membantu menampakkan kesuciaan al-Haram. Menampilkan kepada dunia spirit dan kesan kesucian tersebut.

Meskipun saya yakin betul ada atau tidak ada foto, al-Haram tetap suci dalam penjagaan-Nya. Fotografi adalah bagian seni yang istimewa, oleh Stieglitz, disebut bahwa fotografi bisa menghadirkan realita jauh riil dibandingkan realitanya itu sendiri.

Dia adalah gambar mati yang berbicara. Berbicara realita yang bisa jadi, lebih hidup dari obyek riilnya. Sayang, kamera saya tertangkap mata pihak keamanan. 

Redaktur : Nasih Nasrullah