Di Tanah Suci, Munajat Kami untuk Kemerdekaanmu, Palestina!
Senin , 21 August 2017, 05:54 WIB

Reuters/Ammar Awad
The Dome of the Rock (center) is seen through an arch as Palestinians visit the compound known to Muslims as Noble Sanctuary and to Jews as Temple Mount, in Jerusalem's Old City on January 21, 2014. (Illustration)

IHRAM.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah, wartawan Republika.co.id, dari Makkah, Arab Saudi 

Pada puncak sepertiga malam terakhir, Jumat (18/8) dini hari, beberapa menit sebelum azan kedua shalat Shubuh dikumandangkan di Masjid al-Haram, Makkah, seorang pria tua menarik perhatian saya. Jalannya pelan, tertatih.

Sesekali langkahnya terhenti, nafasnya terengah-engah. Usianya saya taksir sekitar 70 tahun. Bagian belakang kain ihram yang menyelimuti 80 persen badannya tertulis Hujjaj Falisthin (jamaah haji Palestina) lengkap dengan gambar dome of rock, qubbat as-as-sakhra’.

Pria berbadan gempal tersebut ternyata jamaah haji asal Palestina! Saya mencoba mendekati pria tersebut dan mengajak berkenalan. Suaranya teramat pelan. Saya memperkenalkan diri. Dia pun demikian, sembari dia mengayunkan langkah kakinya yang tampak berat. ‘Auni Izdiyaji, namanya.

Dia datang dari Gaza Palestina bersama istri dan adiknya. “Ini adalah berangkat haji pertama saya,” kata ‘Auni. Beberapa kali pertanyaan yang saya tanyakan, sebagiannya tak terjawab dengan baik. Bukan karena dia enggan, tetapi kondisi fisiknya yang memang lelah. Perjalanan darat dari Gaza Palestina lalu dilanjutkan dengan pesawat menuju Jeddah, Arab Saudi sangat melelahkan.

Belum lagi beban psikis yang harus dia tanggung, tidak hanya ‘Auni, tetapi juga para jamaah haji secara keseluruhan dari Palestina. Zionis Israel memberlakukan protokol imigrasi yang ketat bagi siapapun yang hendak keluar dari Palestina, tak terkecuali jamaah haji. Mereka harus melewati setidaknya empat check point yang dijaga ketat oleh pihak berwenang Israel. 

Pemeriksaannya tak sekadar seremonial, tetapi benar-benar ketat. Dari cek dokumen hingga barang yang dibawa jamaah. Otoritas Israel tak segan-segan membatalkan keberangkatan mereka yang dianggap tak memenuhi syarat. Apapun itu. “Maafkan saya jawab seadanya, saya dan rombongan kurang tidur empat hari ini,” kata ‘Auni.

Mengutip data Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina, tahun ini jamaah haji Palestina keseluruhan berjumlah 5600 jamaah. Mereka berasal dari Tepi Barat, al-Quds, dan Jalur Gaza. Jumlah ini belum termasuk 1000 haji undangan dari keluarga para syahid Palestina yang diberangkatkan secara gratis oleh Raja Arab Saudi, Salman bin Abd al-Aziz.           

Tak mudah menjalani hidup sebagai warga Palestina, dan tak gampang berhaji, sebagai haji Palestina. Kemerdekaan adalah hal yang teramat mahal. Bagi warga Gaza, kata ‘Auni, blokade yang diberlakukan Israel atas tanah kelahirannya membuat kesulitan hidup semakin mengimpit.

Anda bisa merasakan nikmatnya berhaji dalam atmosfer kebebasan, bersyukurlah, gumam ‘Auni lirih. “Bagi kami dengan daftar antrean hingga 12 tahun di tengah-tengah cengkraman Zionis adalah ujian tersendiri,” tutur dia.  

Baiklah, saya mengerti, ‘Auni. Memang mensyukuri nikmat bukan sekadar limpahan rezeki, kesehatan, atau bertahannya usia. Tetapi tak kalah penting adalah bersyukur atas anuegarah kemerdekaan kita, kebebasan beribadah di negara kita, anugerah stabilitas dan keamanan tanah air yang kita tinggali.

Kita patut berterimakasih kepada-Nya, sebagai bangsa Indonesia dengan mudah menunaikan haji dan tak jarang mungkin ada yang lebih dari sekali berhaji.

Tanpa aral apapun seperti yang menimpa saudara kita di Palestina. Bahkan pemerintah kita turun tangan. Haji, sesuai amanat UU Haji No 13 Tahun 2008, adalah tugas nasional yang melibatkan pihak terkait.

Ini semata-mata bertujuan memberikan pelayanan, perlindungan, dan bimbingan maksimal kepada setidaknya 221 ribu jamaah haji Indonesia.

Keamanan dan stabilitas negara adalah harta yang teramat mahal bagi segenap putra dan putri ibu pertiwi. Dengan kemerdekaan, kebebasan kita beribadah kita rasakan, dengan stabilitas negara, kita leluasa menjalankan keyakinan kita.

Lantas doa apa yang Anda akan panjatkan di Multazam, ‘Auni? “Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada umat Islam,” ucap ‘Auni dengan nada yang teramat pelan. 

Sebuah paradoks yang oleh Shakib Arslan, sastrawan tersohor dari Beirut, Lebanon, diistilahkan dengan ungkapan “Mengapa umat Islam terbelakang sementara orang selain mereka lebih maju?” (Limadza ta’akhar al-Muslimun wa taqaddama ghairuhum)? Di depan Pintu Marwah Masjid al-Haram, kami berpisah, teriring munajat kami, untuk kemerdekaanmu, Palestina!  

 

 

 

 

Redaktur : Nasih Nasrullah