Kembali ke Madinah
Kamis , 07 September 2017, 00:30 WIB

dok. Pribadi
Ani Nursalikah

IHRAM.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika.co.id, Hj Ani Nursalikah dari Makkah

Tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Madinah akhirnya kembali pulang ke Madinah pada Selasa, 5 Agustus siang, setelah 14 hari berada di Makkah. Kami, 10 jurnalis dari berbagai media, bergeser ke Makkah pada 22 Agustus setelah semua jamaah haji gelombang pertama telah berada di Makkah.

Kami kemudian bergabung dengan tim MCH Daker Makkah untuk bersama-sama meliput seluruh prosesi haji dan pergerakan Amirul Haj. Kabar kepastian kepulangan kami ke Madinah baru kami dapatkan beberapa jam sebelum berangkat. Informasi awal menyatakan, kami kembali ke Madinah pada 6 Agustus atau bersamaan dengan jadwal kepulangan jamaah haji kloter pertama ke Tanah Air.

Selasa dini hari, sekitar pukul 04.00 kami bersiap-siap menuju Masjid Al Haram untuk menunaikan tawaf wada atau tawaf perpisahan. Tak terasa air mata menetes karena tak tahu lagi kapan akan kembali bertemu dengan Ka'bah.

Mobil berputar-putar cukup lama. Hampir sejam kami di jalan menuju Haram karena sejumlah ruas jalan masih ditutup. Kami lantas memutuskan agar Pak Sahe, sopir kami, menurunkan di titik terdekat saja. Kami turun kira-kira berjarak satu kilometer dari Masjid Al Haram.

Tak lama, azan subuh berkumandang. Kami memutuskan untuk shalat di masjid terdekat.

Di sekitar masjid, pedagang kaki lima sudah ramai menggelar lapaknya. Mereka menjual kerudung, jilbab, peci, makanan dan banyak lagi.

Kami berjalan melewati Terminal Syib Amir. Saat itu, di jalanan kami berpapasan dengan jamaah shalat subuh yang keluar dari Masjid Al Haram.

Dalam perjalanan, seorang jamaah menyapa. Ia tersesat usai shalat subuh dan tak tahu arah pulang. Setelah berusaha menggali informasi dari jamaah tersebut, tim MCH memutuskan membawa bapak tersebut untuk kemudian diserahkan ke Linjam untuk diantar pulang.

Sekitar pukul 06.00, kami selesai menunaikan tawaf wada. Kondisi Masjid Al Haram saat itu cukup ramai, tapi tidak padat jamaah. Dalam perjalanan, saya dan jurnalis NET TV berpisah dengan rombongan karena masih mengambil foto dan video.

Kami bertemu kembali dengan teman-teman lain, setelah mencari-cari, sekitar pukul 10.00. Ternyata, mereka menolong seorang jamaah yang pingsan saat melakukan tawaf wada. Seorang jamaah yang menolong justru terpisah dengan rombongannya.

Kami juga membawa seorang jamaah yang bingung arah pulang untuk diantar ke hotelnya. Setelah mampir ke Daker Makkah untuk menurunkan seorang teman dan jamaah, kami tiba di hotel pukul 11.50 WAS.

Meski tubuh masih lelah, kami pun berkemas dan bersiap menuju Kota Nabi. Mobil coaster yang membawa kami telah penuh berisi koper, tas dan barang bawaan. Tiap sudut kosong minibus berkapasitas 14 orang itu dijejali tas. Bahkan kaki pun tak bisa diluruskan. 

Kami berkesempatan mampir di Jeddah beberapa jam. Inilah kali pertama kami menginjak tanah Jeddah. Udaranya lembab karena berada di tepi Laut Merah. Tak lama tubuh rasanya sudah pliket (lengket).

Di Jeddah kami menunaikan shalat Ashar dan melihat-lihat pasar. Beberapa teman jurnalis menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh.

Di sini, perempuan non-Muslim boleh tidak mengenakan jilbab, meski masih mengenakan abaya. Seperti yang saya lihat, sejumlah imigran asal Filipina berseliweran dengan abaya tanpa penutup kepala.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan setelah kumandang azan maghrib. Perjalanan panjang kami habiskan dengan tidur. Tak lama suara dengkuran bersahutan bagai koor yang mengantar tidur.

Kami tiba pukul 01.00 dini hari. Pekan depan jamaah haji gelombang dua mulai memasuki Madinah untuk melaksanakan shalat arbain atau shalat fardhu 40 waktu berturut-turut.