Bertugas Beratapkan Langit dan Bersahabat dengan Matahari
Jumat , 15 September 2017, 05:36 WIB

Republika/Ani Nursalikah
Aktivitas petugas mencatat bus yang memasuki Madinah dari Makkah di Terminal Hijrah, Madinah, Rabu (13/9).

IHRAM.CO.ID, MADINAH -- Matanya menyapu jalanan beraspal di hadapannya. Saat objek yang dicarinya datang, mata itu sedikit menyipit.

Sengatan surya yang gagah menantang tak dihiraukannya. Tangannya segera mencentang kolom yang tersedia di kertas yang dibawanya. Sebuah bus dari Madinah bernomor delapan yang mengangkut jamaah kloter SUB 49 baru saja melintas.

Udung Nurrahman (42 tahun) sedang melaksanakan tugasnya di Terminal Hijrah sore itu, Rabu (13/9). Jam di tangan menunjukkan pukul 15.00 WAS. Jam segini suhu udara justru sedang berada di puncaknya. Sore itu aplikasi cuaca di ponsel menunjukkan angka 43 derajat Celsius.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Udung dan rekan-rekannya yang bertugas di Sektor Bir Ali dan Terminal Hijrah. Dedikasi dan semangat melayani jamaah haji menjadi pemicu untuk tetap melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Jangan bayangkan mereka bertugas dengan nyaman di Terminal Hijrah. Tak ada posko di sini.

Petugas hanya berbekal kursi dan memanfaatkan bayangan bangunan atau pepohonan untuk berlindung dari teriknya matahari. Namun, Udung mengaku bersyukur untuk pertama kalinya diberi kepercayaan oleh pemerintah melayani tamu Allah walau dalam kondisi panas terik bahkan sampai larut malam.

Petugas di Terminal Hijrah bertugas di tiga titik. Pada pos pertama petugas terlihat berlindung di bayangan sebuah pos jaga. Di pos kedua, petugas di sini sedikit beruntung karena berada di dalam gedung. Di pos ketiga, petugas berlindung di rerimbunan pepohonan.

"Beralaskan tanah dan aspal di bawah terik matahari dalam keseharian merupakan pengalaman tidak terlupakan. Menjadikan matahari sebagai sahabat. Setiap hari harus dijalani dan tidak bisa dihindari," kata Udung.

Pria yang sehari-hari bertugas di Pangkalan Utama TNI AL IV, Tanjungpinang, Kepulauan Riau itu menyiasatinya dengan berbagai cara. Misalnya, dengan memaksimalkan potensi alam yang ada, yaitu berlindung di bawah pohon, seirama dengan pergerakan matahari atau dengan berlindung di tempat yang lebih tinggi . Payung pun digunakan.

"Apa pun yang ditugaskan kepada kami insyaAllah siap dilaksanakan demi melayani duyufurrahman," ujar Udung.

Tahun lalu, terdapat kontainer yang digunakan sebagai kantor sekaligus tempat berlindung. Namun, kontainer itu sudah dibongkar. Praktis, petugas pun tidak memiliki tempat beristirahat.

Terminal Hijrah terletak di Kilometer 9. Jaraknya sekitar 23 kilometer dari Masjid Nabawi. Lokasinya berada di pinggir jalan utama yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Bus-bus yang mengangkut jamaah haji dari berbagai negara menuju Madinah lalu-lalang di sini.

Sekretaris Sektor Sektor Bir Ali dan Terminal Hijrah Syafruddin Tanjung mengatakan, bila pada masa pra-Armina, petugas di Bir Ali berperan memastikan jamaah berihram sempurna dan mengambil miqat, petugas di Terminal Hijrah mencatat data bus yang datang.

Mereka lalu menginformasikan kedatangan bus kepada petugas sektor atau pemondokan melalui alat komunikasi bravo.
 
Ada tiga titik petugas yang berjaga sebagai antisipasi jika bus terlewat. "Kami laporkan kloter berapa yang sudah datang melalui bravo supaya petugas sektor pemondokan yang dituju bisa segera menyiapkan hotelnya dan katering," ucap Letnan Kolonel dari kesatuan Kostrad di Gambir tersebut.

Ada 15 orang yang bertugas di Sektor Bir Ali dan Terminal Hijrah. Tidak tanggung-tanggung, petugas bekerja selama 17 jam, mulai pukul 09.00 hingga pukul 02.00 WAS. Syafruddin mengatakan ia memberlakukan sistem kerja sehari masuk dan sehari libur.

Selain cuaca panas, tantangan lain adalah harus mengejar atau menghentikan bus yang stiker kloternya terlepas dari kaca depan bus. Stiker ini bisa lepas karena tertiup angin akibat kencangnya laju bus. "Kami harus hentikan untuk memastikan dari kloter mana supaya akomodasinya siap," katanya.

Dari Terminal Hijrah, butuh sekitar 20 menit untuk bus sampai ke hotel tujuan.

Redaktur : Endro Yuwanto
Reporter : Ani Nursalikah