Makkah dan Bakkah
Selasa , 05 Desember 2017, 04:00 WIB

ROL/Sadly Rachman
Kabah

IHRAM.CO.ID, Allah SWT menggunakan kata ‘Bakkah’ untuk menyebut kota suci yang umumnya disebut Makkah. Penyebutan ini tentu saja menyedot perhatian para pakar bahasa dan sejarah Arab. Mereka mengajukan sejumlah alasan dan penjelasan.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya rumah pertama kali dibangun untuk (tempat beribadah) adalah Baitullah di Bakkah yang diberkati dan dijadikan petunjuk bagi semua manusia. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya maka amanlah dia. Menunaikan haji adalah kewajiban manusai terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Siapa yang mengingkari kewajiban ini, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran : 96-97)

Dikutip dari Ensiklopedia Alquran bahwa sekelompok pakar linguistik mengatakan, bahwa nama Bakkah berasal dari kata ‘al-bakk’ yang berarti padat dan mendorong. Pendapat pertama, orang Arab mengatakan, ‘Fulan bakka fulanan bakkan,’ yang berarti fulan menghimpit dan mendorong orang itu ketika berjalan. Atau tabakka an-nas yang artinya terjadi kepadatan dan aksi saling mendorong dalam suatu tempat atau jalan yang sempit lantaran kepadatannya.

Seperti diketahui ketika melakukan tawaf di sekitar Ka’bah, jamaah haji atau umrah mengalami kepadatan dan melakukan aksi saling dorong. Radius kepadatan ini semakin melebar hingga meliputi seluruh Baitul haram. Karena alasan inilah, tempat itu dinamakan Bakkah yang berarti kota yang dipadati manusia.

Pendapat kedua mengatakan bahwa nama Bakkah berasal dari kata kerja ‘bakka-yabukku’. Ketika menyaksikan seseorang jatuh dari gunung, orang Arab mengatakan, “Inbakka ‘unuquhu (lehernya patah hingga meninggal dunia).” Pertanyaannya, apa hubungan leher patah dengan kota yang disucikan itu?

Menurut mereka, Allah SWT memelihara dan melindungi rumah-Nya, sehingga setiap orang yang ingin menghancurkan atau merusaknya pasti dihancurkan oleh-Nya. Demikianlah, dia dinamakan Bakkah karena menjadi tempat leher orang-orang zalim dan kuat dipatahkan setiap kali ingin menghancurkan tempat tersebut.

Peristiwa paling melekat dalam ingatan umat Muslim adalah yang menimpa Abrahah dan pasukannya. Dia adalah panglima negeri Habasyah (sekarang Eritrea) yang ingin menyerang Makkah dengan mengerahkan tentara gajah. Allah SWT menghancurkan mereka dengan mengirim burung-burung ababil dan menghujani mereka dengan bebatuan neraka. Akibatnya, sebagaimana dikisahkan dalam surah al-Fil, mereka seperti daun yang dimakan ulat.

Persoalannya kemudian, mengapa Bakkah berubah menjadi Makkah? Menurut sejumlah pakar linguistik, orang Arab seringkali mengganti huruf ba dengan huruf mim untuk memudahkan dan meringankan pengucapannya. Untuk menyebut contoh, mereka akan mengatakan pukulan yang keras dan akurat sebagai, ‘dharbah lazib’. Namun, mereka juga mengucapkan ‘dharbah lazim’ dengan arti yang sama seperti ungkapan sebelumnya.

Kelompok pakar linguistik lainnya mengatakan  bahwa nama Makkah berasal dari kata kerja ‘imtakka-yamtakku’ yang artinya menghisap. Karena, seekor anak unta akan terus menghisap dengan lahap sampai tetes susu yang terakhir ketika menyusu pada induknya. Perbuatan anak unta itu  oleh orang Arab disebut sebagai ‘imtakka, menghisap susu ibunya sampai habis. Orang Arab juga menyebut seseorang yang menghisap sumsum tulang sebagai ‘imtakka’.

Dari sinilah nama Makah diberikan kepada sebuah kota yang terdapat Baitullah, karena di musim haji banyak orang yang tergesa-gesa berjalan menuju sumber-sumber air. Sementara itu, sumur-sumur berisikan sedikit air. Mereka menimba habis isinya, sama dengan seekor anak unta yang menghisab habis air susu induknya atau seorang yang menghisap habis sumsum tulang. Karena itulah, kota ini dinamakan Makah.

Sebagian pakar sejarah Arab meyakini bahwa nama Bakkah berbeda dengan Makkah. Bakkah hanya digunakan untuk menyebut kompleks Masjidil Haram, sedangkan Makkah dialamatkan kepada seluruh wilayah Haram, termasuk rumah-rumah penduduknya.  Abu Ubaidah ra berpendapat bahwa Bakkah hanya diberikan kepada daerah pusat Kota Makah.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Mgrol97