Arab Saudi: Kami Bukan Hanya Penjual Minyak
Rabu , 20 Desember 2017, 14:21 WIB

Flickr.com
Kota Kuno di Jeddah, salah satu tujuan wisata menarik di Arab Saudi.

IHRAM.CO.ID, RIYADH - Arab Saudi akan mulai mengeluarkan visa turis pada kuartal pertama 2018. Kebijakan ini merupakan yang pertama untuk Kerajaan yang tengah menjalani reformasi ekonomi dan sosial.

Kepala Komisi Pariwisata dan Warisan Budaya Saudi (SCTH), Pangeran Sultan bin Salman, mengatakan, persetujuan pemerintah akan diperlukan untuk meluncurkan visa elektronik tahun depan. Visa ini untuk semua warga negara yang negaranya mengizinkan warganya untuk mengunjungi negara Teluk.

"Kami sekarang baru saja mempersiapkan peraturan, siapa yang berhak mendapatkan visa dan cara mendapatkannya," ujar Pangeran Sultan, dikutip Arab News, rabu (20/12).

Langkah untuk membuka sektor pariwisata ini adalah pergeseran besar bagi Arab Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman berusaha merombak perekonomian yang bergantung pada minyak negara dan melepaskan citra ultra konservatifnya.

Terlepas dari jutaan Muslim yang melakukan perjalanan ke Arab Saudi setiap tahunnya untuk melakukan ibadah haji, sebagian besar pengunjung tetap menghadapi proses yang sulit dan sering dikenai biaya tambahan.

Pangeran Sultan mengatakan, biaya visa turis baru belum ditetapkan, namun ia menekankan biayanya akan serendah mungkin. "Karena kami percaya dampak ekonomi kumulatif lebih besar daripada uang tunai dari visa," ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi telah melanggar beberapa peraturannya, seperti mencabut larangan bioskop. Arab Saudi juga mengumumkan, wanita akan diijinkan mengemudi mulai Juni 2018 mendatang.

"Kerajaan adalah harta yang sangat besar. Orang hanya mengenalnya dalam istilah tersirat. Kami bukan hanya penjual minyak," papar Pangeran Sultan. Ia menggambarkan pegunungan, pantai, dan ratusan pulau di sepanjang pantai Laut Merah.

Menurutnya, akan ada pedoman untuk sektor pariwisata. "Kami tidak ingin kehilangan atau melepaskan budaya dan nilai-nilai lokal kami. Kami adalah negara dari Dua Masjid Suci, negara Islam, dan keuntungan yang sangat besar ini tidak dapat dilepaskan, hanya demi mendorong sektor pariwisata," katanya.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Fira Nursya'bani