Karena Perjuangan Ayah, Dewi dan Keluarga Berangkat ke Tanah Suci
Selasa , 07 February 2017, 01:10 WIB

Musiron/Republika
Kabah

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Mimpi setiap Muslim untuk dapat berangkat ke Tanah Suci. Untuk menggapai mimpi itu, banyak Muslim bekerja keras guna mewujudkannya.

Dewi misalnya, dua pekan lalu, dia bersama keluarga baru saja pulang dari Tanah Suci. Bersama keluarganya, ia begitu menikmati ibadah yang selama ini diimpikannya.

“Umrah pertama saya terasa sangat spesial, karena bersama keluarga dan memang ibadah ini sudah lama kami rencanakan. Awalnya ayah saya yang memimpikan umrah sekeluarga ini dan beliau menabung untuk memberangkatkan saya dan 11 anggota keluarga lainnya” ungkap Dewi saat berbincang dengan Republika.co.id, belum lama ini.

Sebelum berangkat, Dewi dan keluarga tengah berduka. Ayahanda tercinta meninggal dunia.

Kesempatan Dewi dan keluarganya berangkat umrah merupakan hasil perjuangan ayahnya. Sejak tahun 2012, ayahnya selalu mengungkapkan keinginanya untuk berangkat umrah sekeluarga. Lantaran kondisi ekonomi tak memungkinkan, almarhum bekerja keras dan akhirnya dapat memberangkatkan umrah keluarganya.

 “Selama di Tanah Suci kami selalu merindukan beliau karena tanpa beliau mungkin kami belum bisa melaksanakan ibadah umrah secepat ini. ibadah kami diawali di kota Madinah, semua berjalan lancar dan mulus. Alhamdulillah saya tidak tertinggal arba’in. begitu juga ketika di Raudhah saya bisa melaksanakan shalat sunnah berkali-kali di sana walaupun memang agak sulit untuk masuk tapi Alhamdulillah dimudahkan oleh Allah” kata Dewi.

Pertama kali melihat Kabah, Dewi merasa kecil.  “Ketika di Kabah, saya selalu menangis dan memang rasanya harus menangis ya, agar kita dapat khusyuk dan menghadirkan hati kita. Saya selalu berterimakasih kepada Allah dan kepada ayah saya yang sudah meninggal.” Kenang Dewi.

Dewi menjelaskan, selama disana pikiran, hati dan lisan harus sangat dijaga. Dewi mencoba untuk berprasangka dan berpasrah kepada Allah selama disana.

“Banyak yang bilang kalau di sana sandal gampang hilang dan harus di taruh di tas sendal. Tapi saya mencoba yakin dan pasrah pada Allah. Saya meninggalkan sandal saya di depan Masjid dan tidak saya titipkan di loker tempat penitipan sendal, Alhamdulillah saya melakukan itu selama 7 hari ibadah saya di Tanah Suci baik itu di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, Subhanallah setiap saya ingin pulang ke hotel dan ingin mengambil sendal, sendal saya selalu berada di posisi semula.” Ungkap Dewi.

Dari pengalaman itu Dewi mengambil hikmah bahwa, apapun yang kita yakini maka akan terjadi. “Itu adalah simbol dari apa yang kita miliki, harta misalnya semakin kita merasa memiliki semakin kita takut kehilangan tapi kalau kita ikhlaskan semua karena Allah maka Allah akan semakin menjaga, sebab Allah memberi tanpa melihat waktu dan Allah akan mengambil tanpa melihat waktu juga.” Paparnya.

Hal yang sangat terasa setelah kepulangannya dari Tanah Suci adalah dia selalu merindukan waktu shalat, kalau dahulu dia sering lalai tapi setelah dari sana dia selalu berusaha shalat tepat waktu. Karena menurutnya, shalat tepat waktu merupakan kenikmatan yang luar biasa dan pahalanya sungguh berlipat dibanding seorang hamba melaksanakan shalat di pertengahan waktu apalagi di akhir waktu. 

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : mgrol86