Hanya Orang Indonesia yang Berhaji Sampai Tujuh Kali
Sabtu , 12 August 2017, 03:07 WIB

Republika/Nashih Nashrullah
Jamaah haji Indonesia melakukan shalat di Masjid al Haram setiba di Makkah dari Madinah, Arab Saudi, Ahad (7/8).

IHRAM.CO.ID, Bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan tidak takut dianggap mengkritik orang. Kalau sesuatu diyakininya sebagai kebenaran, ia akan mengungkapkannya kepada siapa pun. Tanpa kecuali. Beberapa pejabat pernah kena 'semprot' kritik tajamnya menyangkut kebijakan yang mereka keluarkan. Sikapnya yang terbuka ini pula yang menyebabkan ia banyak mengkritik umat Islam Indonesia. ''Umat Islam masih menyimpan ajarannya di kantong,'' kata Prof dr Chehab Rukni Hilmy kepada Republika, kala itu.

Maksudnya, ajaran agung yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW hanya jadi pembicaraan saja, namun sulit terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran Islam demikian mudahnya untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru besar FKUI ini juga banyak berbicara tentang kelangkaan rumah sakit Islam, kedokteran Islam hingga pengajian dokter. "Maaf, menurut saya keimanan umat Islam kita masih di kantong baju. Mereka masih terlalu mengutamakan ibadah. Jeleknya mereka demonstratif. Tak sedikit yang berhaji sampai tujuh kali. Hanya orang Indonesia yang pergi haji sampai tujuh kali, tapi jarang menyumbang ke rumah sakit demi kepentingan orang," ujarnya (8/9/1996).

Karena itu, jangan heran rumah sakit Islam yang ada di Indonesia masih sedikit. Mestinya rumah sakit Islam paling banyak ada di Indonesia mengingat jumlah penduduk kita mayoritas Islam. Ini yang sangat disayangkan. Katanya, jumlah umat Islam mencapai 165 juta lebih, tapi mana kepedulian mereka untuk kesehatan?

Padahal, Islam sangat menganjurkan memperhatikan kesehatan. Bukan hanya sekadar menganjurkan, tapi sudah dengan tegas mengatakan bahwa kesehatan merupakan bagian dari iman.

Lantas bagaimana peran para ulama? Dia  mengatakan, kenyataannya kepedulian umat Islam terhadap kesehatan masih kurang. Ini artinya para ulama belum berperan dengan baik. Mestinya, mereka mampu mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kesehatan, karena Islam itu bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi juga seluruh kehidupan manusia.

Umat Islam saat ini boleh dibilang masih terbelakang dalam banyak hal. Maafkan, masyarakat Islam di Indonesia masih dianggap bodoh. Contoh, saya belum lama mengajak anak saya yang pulang dari pesantren dan terkena penyakit kulit. Dokter terkenal yang beragama Nasrani itu berkomentar, ''Ah, biasa Hab. Semua yang dari pesantren pasti kena penyakit seperti ini.''

Sebagai kolega tentunya dia tidak akan mengatakan seperti itu kalau tidak dari lubuk hatinya punya anggapan pesantren itu punya orang kampung. Saya tidak marah, karena kenyataannya memang demikian. Tapi, hal itu sepertinya jadi trade mark yang digunakan orang yang tidak simpatik kepada Islam untuk menjelek-jelekkan.

Di masa lalu kedokteran Islam terkenal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Kenapa para dokter Muslim saat ini masih berkiblat pada kedokteran Barat yang seringkali mengabaikan masalah agama?

Masalahnya, apakah di setiap fakultas kedokteran kita diajarkan mata kuliah sejarah kedokteran Islam. Jawabnya, tidak. Sama sekali tidak. Hanya dulu di FKUI pernah disampaikan sekali kuliah umum tentang kedokteran Islam. Ketika itu dekannya Prof dr Asri Rasyad. Kebetulan yang diserahi untuk memberi kuliah saya. Jadi, bagaimana mereka mau mengetahui kalau sejarahnya tidak pernah diberikan. Jangankan yang mahasiswa, yang sudah dokter sekalipun jarang sekali yang tahu tentang itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Galen (Galenicus), tokoh yang dianggap dewa ilmu kedokteran. Pahamnya tentang banyak hal dianut oleh kalangan kedokteran Barat sampai abad 15-16 M. Salah satu penyebab terlambatnya perkembangan ilmu bedah tangan adalah karena pahamnya yang mengatakan bila urat dioperasi maka akan mati. Sampai abad 16 paham ini menguasai otak para dokter ketika itu sehingga tidak ada yang berani melanggar.

Namun, Ibnu Sina pada 1138 M justru mengatakan, bahwa tendon (urat) yang putus harus dijahit kembali. Dan ternyata pandangan Ibnu Sina yang kini dianut para dokter modern. Ironisnya, saya justru mengetahui dari Journal of Hand Surgery, Juli 1991.

Saya juga membaca laporan perjalanan seorang pujangga besar Inggris ke Timur Tengah saat Perang Salib. Ia melihat di Damaskus pabrik alkohol bekerja siang malam. Padahal minuman keras dilarang. Ternyata salah satu fungsi alkohol tersebut adalah untuk sterilisasi sebelum melakukan pembedahan.

Kota Damaskus itu sendiri berasal dari nama seorang dokter, namanya Ibnu Damsyik. Ketika itu, khalifah berkeinginan mendirikan sebuah kota. Ibnu Damsyik meminta empat potongan daging yang diletakkan di empat penjuru dalam radius 10 Km. Di tempat daging yang paling lama membusuk itulah kota harus dibangun. Artinya, meski kuman baru ditemukan pada tahun 1500-an, namun secara akal Ibnu Damsyik mampu melihat bahwa di tempat pembusukan daging paling cepat, tidak layak secara kesehatan sebagai tempat tinggal manusia.

Kabarnya di FKUI ada forum kajian para dokter muslim? Betul dan saya pernah menjadi ketua pelindungnya. Namanya Forum Studi Islam. Semua persoalan tentang Islam kita bahas dalam forum itu mulai dari kedokteran Islam sampai kajian tentang pemikiran Ali Syariati.

Redaktur : Agus Yulianto
Sumber : Disarikan dari Pusat Data Republika