Penantian 10 Tahun Nenek Sukini untuk Berhaji
Ahad , 24 September 2017, 19:33 WIB

Republika/Diah Anjar
Nenek Sukini

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Kloter 35 asal Provinsi Banten tiba di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada Ahad (24/9) sore. Salah satu dari 392 jamaah haji yang berada di Gedung Serba Guna 2 Asrama Haji Pondok Gede adalah nenek Sukini (80 tahun) yang sedang duduk di kursi roda.

Sukini kala itu terlihat duduk di kursi roda sembari menikmati segelas teh yang disediakan oleh PPHI Embarkasi Pondok Gede untuk para jamaah.

Sukini yang tak lagi mampu berjalan menuturkan, dirinya sangat bahagia dapat menunaikan ibadah haji dan kembali pulang ke Tanah Air.

"Alhamdulillah di sana (Tanah Suci) baik-baik keadaannya, terus pulang ke sini juga dalam keadaan baik-baik," ujar Sukini, Ahad.

Penantian Sukini selama 10 tahun untuk berhaji akhirnya tercapai di tahun ini. Perempuan yang tinggal di Tangerang Selatan ini menceritakan bahwa dirinya dan sang anak sempat tertipu karena perusahaan layanan haji yang dipilihnhya tidak amanah. Sepuluh tahun yang lalu ia harus menelan pil pahit, sebab ia tak dapat pergi ke Tanah Suci meski semua pembayaran sudah dilunasi.

"Saya sabar menunggu selama 10 tahun, dari musibah itu. Akhirnya Allah mengizinkan saya berhaji di tahun ini, meski kondisi tidak sekuat dahulu," ujar Sukini dengan berurai air mata.

Meski tak dapat melihat keindahan Tanah Suci karena penglihatannya menurun, Sukini bersyukur dapat melaksanakan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

"Mata saya sudah nggak bisa lihat jelas, hanya remang-remang. Jadi banyaknya dzikir saja di kamar. Tapi saya senang, karena alhamdulilah beberapa kali bisa melaksanakan shalat di Masjidil Haram dan Nabawi," kata Sukini.

Adapun sang anak, Tri, setia mendampingi ibunya dalam ibadah haji di Tanah Suci. Ia pun tak henti-hentinya bersyukur sebab sang ibu yang sudah tua dapat melaksanakan haji dan pulang dalam kondisi baik.

Kemampuan fisik ibunda Tri sangat terbatas. Hal itu membuat sang ibu tak dapat melaksanakan semua rangkaian ibadah haji. "Untuk lempar jumrah saya yang membadalkannya, sedang ibadah lain yang dirasa ringan dilakukan sendiri, namun tetap saya dampingi," kata dia.

Tri berharap semoga sang ibu dan dirinya dapat menjadi haji yang mabrur. Tri juga berpesan agar orang-orang yang memiliki pengalaman seperti dirinya dan ibunya tetap berkhusnudzon kepada Allah SWT.



Redaktur : Endro Yuwanto
Reporter : mgrol97
BERITA TERKAIT