Rindu Laksanakan Pengalaman Spiritual Tertinggi Makkah
Jumat , 03 November 2017, 05:00 WIB

Dok Patuna
Jamaah haji Patuna Travel tahun 1437 H/ 2016 M.

IHRAM.CO.ID, Bagi sepasang suami istri yang bekerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Siti Nurmayani dan Sumitra Alamsyah, pengalaman haji dan umrah adalah dua pengalaman berbeda secara spiritual. Namun, satu hal yang pasti dari perjalanan itu adalah mereka selalu merindukan beribadah dengan tentram di depan Ka'bah secara langsung.

Setelah berhaji pada 2003 silam, keduanya sepakat akan melakukan perjalanan umrah pada 2010. Bahkan setelah itu mereka kembali menjalani umrah kedua kalinya di 2017 ini. Dengan mempercayakan Patuna Tour di Paket Biru dengan biaya Rp 32 juta per orang, Siti dan Sumitra akhirnya berangkat umrah pada April 2017 ini.

Mereka mendaftarkan diri ketika melihat sebuah promo menarik Patuna Tour di Margo City Depok pada Desember 2016 lalu. Namun, walaupun di Paket Biru Patuna Tour ada pilihan untuk melanjutkan tur wisata. Keduanya sepakat tidak mengambil tur lanjutan, lantaran mereka ingin secara khusyuk melaksanakan ibadah umroh.

"Waktu itu Patuna lagi promo paket umrah di Margo City. Kebetulan memang lagi merencanakan untuk umrah lagi, jadi pas ketemu dengan Patuna. Di situ ada paket umrah biasa dan paket lanjut wisata, dan lihat harga-harga paketnya, dan akhirnya memutuskan memilih Patuna," ujar Siti kepada Republika.co.id, Kamis (2/11) siang.

Awalnya, mereka memang menginginkan agar bisa berangkat umrah secepat mungkin, namun Patuna pada saat itu tidak memiliki kursi kosong lagi. Sehingga, harus menunggu terlebih dahulu dan dapat pada April 2017, dengan waktu 9 hari umrah, hotel juga hanya berjarak ratusan meter saja dari Masjidil Haram.

Menurut keduanya, saat paling ramai memang ketika haji, sementara umrah cukup sepi. Tetapi, dari Patuna Tour saja yang berangkat satu pesawat penuh, karena memang jumlahnya digabung dari seluruh Paket Coklat, Paket Biru, Paket Hijau, dan Paket Ungu.

Dan ketika tiba di Madinah, ini dibagi-bagi lagi menjadi beberapa bus. Seluruh jadwal juga sudah diatur oleh pihak travel mulai dari hari pertama hingga hari kesembilan.

"Selama dengan Patuna Tour, tidak ada masalah sama sekali soal makanan, hotel, atau apapun yang terkait dengan travel, semua baik-baik saja. Hanya saja waktu itu sedang pancaroba dari musim dingin ke musim panas, jadi ada beberapa jamaah yang sakit," papar Siti.

Pada April 2017, Arab Saudi memang sedang mengalami perubahan musim dari musim dingin ke musim panas. Sehingga ada beberapa jamaah yang sakit, namun dapat ditangani. Suhu pun juga tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, berbeda dengan musim Ramadhan di Arab Saudi yang sudah masuk dalam musim panas, sehingga suhu akan panas sekali.

Tiba di Madinah, jamaah singgah di masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulallah SAW yakni Masjid Quba, dan jamaah shalat di sana. Masjid Quba saat ini sudah direnovasi dan diperluas pada masa Kerajaan Arab Saudi pada 1986 yang memakan dana hingga 90 juta riyal. Masjid Quba mampu menampung 20 ribu jamaah, dengan luas 5.035 meter persegi, ada 19 pintu dan tiga pintu utama.

Masjid hanya dibuka saat musim haji

Setelah singgah di masjid penuh keistimewaan itu, jamaah langsung diajak ke hotel dekat dengan Masjid Nabawi. Kemudian selama umroh, Siti dan Sumitra singgah di tempat lontar jumroh di Mina dan ke Arafah. Dua tempat khusus untuk haji itu, pada saat umroh sangat sepi. Bahkan, ada masjid yang memang hanya dibuka pada saat musim haji saja.

Masjid Al Khaif, ya masjid berwarna merah khas di Mina itu hanya dibuka pada musim haji. Masjid tersebut terkenal dengan sebutan masjid 30 hari, hal itu karena masjid ini hanya dibuka selama 30 hari per tahunnya selama musim haji. Masjid ini sudah beberapa kali mengalami pemugaran, dan kini sudah terdapat banyak pintu masuk untuk perempuan.

Masjid Al Khaif ini menurut informasi dari Arabnews, dapat menampung sekitar 100 ribu jamaah untuk melakukan shalat lima waktu. Masjid yang memiliki 403 tiang ini terletak di dekat kantor administrasi Kementerian Keislaman Arab Saudi. Di dekatnya juga dibangun penginapan untuk tamu besar Kementerian Keislaman Arab Saudi.

Setelah singgah di beberapa titik ketika umroh, mereka melakukan rukun umroh seperti biasanya saja. Hanya saja, musibah dialami oleh salah seorang jamaah yang baru hendak memulai, tiba-tiba saja ketika sedang berganti pakaian ihram, seluruh aksesoris berharganya hilang. "Ganti pakaian ihram ini kan di beda masjid ya, jadi itu kita niatnya pun harus baik terus di sana," jelas Siti.

Makkah dan Madinah memang menjadi tempat yang merindukan bagi siapapun yang pernah menginjakkan kaki di sana, apalagi yang memang benar-benar berniat untuk ibadah ke sana. Ada satu tempat yang berisi banyak orang Indonesia di sana, namanya Kampung Kurma. Bahkan, mereka menerima pembayaran cash rupiah.

Satu kisah ketika mereka haji pada 2003 itu, dimana niat dan doa dalam hati saja langsung terjawab. Sumitra, ketika hendak mencium hajar aswad, karena memang suasana sangat ramai, ia merasa kesulitan. Akhirnya ia berdoa di depan Ka'bah, dan beberapa saat setelah itu dia langsung perlahan mendapatkan jalan dengan mudah menuju hajar aswad.

Tidak hanya itu, Siti dan Sumitra sempat terpisah. Siti merasa sangat khawatir, dan sembari melirik serta mencari ke segala sisi masjid, ia berdoa agar dipertemukan dengan suaminya. Beberapa detik saja ia menyelesaikan doanya di dalam hati, tiba-tiba ada sosok lelaki mengenakan kemeja berwajah putih, bersih, dan berwajah khas Arab, menarik tangannya dan menuntunnya ke sebuah pintu.

Ia memang kebingungan saat itu, tetapi tanpa banyak bicara ia mengikuti saja lelaki itu dan mengucapkan terima kasih. "Akhirnya saya berdiri saja di pintu itu, lalu beberapa saat kemudian suami saya muncul. Saya tidak tahu siapa lelaki itu, Wallahualam," papar dia.

Kembali ke Indonesia pada Mei 2017, ia menegaskan, di Makkah dan Madinah merupakan pengalaman spiritual tertingginya sebagai umat Islam. Karena jika dengan niat yang benar, ketika sekali saja sudah menginjakkan kaki di sana, tentu rasanya hati ingin kembali ke sana.



Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Rahma Sulistya
BERITA TERKAIT