Ekonomi Haji: Antara Uang dan Ziarah
Rabu , 27 December 2017, 05:19 WIB

gahetna,nl
Suasana Makkah pada tahun 1850.

IHRAM.CO,ID, Kesempatan ibadah tahunan, yakni haji, telah menjadi bisnis yang menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, haji telah memberikan bukti datannya aset finansial yang besar bagi perekonomian Arab Saudi, negara kerajaan kaya minyak.

Seperti sudah umum diketahui, banyak peziarah dengan cara bagaimaapun telah  berjuang untuk memenuhi kebutuhan spiritual haji ini dengan membuka lebar-lebar dompet mereka.

Mohammed Zayan, seorang peziarah berusia 53 tahun dari Tunisia, menyatakan telah menunggu seumur hidup untuk melakukan kewajiban keagamaan yang di khusukan kepada setiap Muslim dan Muslimat ‘yang mampu.’

"Saya menghabiskan sampai 6.000 dolar AS untuk haji saya," kata Zayan pada musim haji 2017 yang baru lalu itu seperti dilansir BBC.Com

"Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa dia memampukan saya untuk ‘menyelamatkan’ sejumlah uang ini. Tapi saya sedih karena saya tidak mampu membawa istri dan anak saya bersama saya,” ujarnya lagi.

Jutaan orang yang datang ke Mekkah setiap tahun membawa miliaran dolar ke ekonomi Saudi.

Restoran, agen perjalanan, perusahaan penerbangan dan perusahaan telepon seluler semuanya mendapatkan penghasilan besar selama musim haji. Pemerintah Arab Saudi  meraup keuntungan dalam bentuk pajak.

Menurut Kamar Dagang Makkah, pada tahun 2016, prosesi ibadah yang berlangsung selama 10 hari tersebut mampu menghasilkan dana sekitar  10 miliar dolar AS atau 6,2 miliar Franc.

Sektor swasta di Arab Saudi pada musim haji juga memaksimalkan keuntungannya. Ini misalnya mendapatkan dana dari hasil investasi di real estat (penginapan) bagi para peziarah. Bahkan, tarif sewa tertinggi di Arab Saudi ditemukan di kota suci Makkah.

Pemilik hotel yang dekat dengan masjid utama misalnya, pada musim haji akan meminta tarif 700 per malam. Mereka menyatakan tarif semahal itu karena adanya biaya pembelian harga tanah yang terus melonjak dan juga  adanya kenaikan suku bunga pinjaman bank yang tajam.

"Saya telah berinvestasi di sektor ini selama 35 tahun. Saya ingat ketika saya pertama kali berbisnis untuk menjual satu meter tanah di Makkah harga hanya 15 rials (3 dolar AS). Nah, sekarang telah mencapai 80.000 rials ( 22.000 dolar AS),” kata Mohamed Saed al-Jahni, salah satu taipan real estat asal Makkah.

"Permintaan lebih tinggi dari penawaran dan itulah yang menyebabkan begitu banyak bangunan dan hotel dibangun dalam beberapa tahun terakhir. Tujuannya untuk mengakomodasi peningkatan jumlah peziarah,” katanya,

Bangunan pencakar langit kini memang telah memenuhi cakrawala Makkah. Bangunan ini muncul dengan kecepatan yang tak terbendung.

Keberadaan situs kuno Ka’bah yang telah berabad-abad itu telah memberi jalan teruwujudnya banyak hotel mewah mewah, yang memang harganya tidak bisa terjangkau oleh banyak peziarah.

Terkait soal tersebut, Pemerintah Arab Saudi mengatakan  ini adalah langkah yang diperlukan, bahkan jika pembangunan tersebut terjadi dengan mengorbankan berbagai bukit bersejarah yang berada di sekitar area Masjidil Haram.

Selain bidang propersti, bisnis penjualan  suvenir atau oleh-oleh haji  di Mekah adalah bisnis lain yang sangat menguntungkani. Memang sampai kini belum ada perkiraan resmi mengenai volume bisnis perdagangan yang sangat menguntungkan ini. Namun, semua yakin melalui bisnis oleh-oleh haji ini telah menghasilkan ratusan juta dolar setiap tahunnya.

Ahmed Abdel Rahman, 43 tahun, misalnya bila  meninggalkan Mekah akan membawa banyak suvenir untuk hadiah dan cendera mata untuk orang-orang terkasihnya di Mauritius.

"Ini adalah suvenir yang diberkati," katanya sambil memegang manik-manis yang baru saja dia beli yang harganya hampir tiga kali dari harga asalnya, yakni ketika diproduksi di Cina.

Memang harga suvenir di Makkah sering terlihat sangat tinggi dan sebagian besar produk seperti tikar dan manik-manik tidak dibuat di kota itu, melainkan ddatangkan dari Cina.

Namun bagi Abdel Rahman menghabiskan uang di Makkah pada waktu melaksanakan ibadah haji tak membuatnya merasa bermasalah. Bahkan dia

merasakan adaya bantuan spiritual yang luar biasa saat dia menghabiskan uangnya itu.

"Saya tidak menemukan pemilik toko yang oportunis. Namun kami ini hanya membantu saudara laki-laki kami dalam Islam untuk menghasilkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan. Ini adalah tindakan yang sangat dihargai,” ujarnya.

Haji adalah satu dari lima rukun Islam dan sebuah kewajiban, asalkan seorang Muslim secara finansial dan fisik mampu.

Ritual, yang menunjukkan kesatuan umat Islam dan penyerahan mereka kepada Allah, telah dilakukan hampir hampir 1.400 tahun.

Betapapun harganya, umat Islam tidak akan berhenti datang ke pusat spiritual tersebut. Mereka memang tidak bisa melakukan haji di tempat lain.

   

Redaktur : Muhammad Subarkah